Webber mengklasifikasikan tindakan sosial menjadi empat jenis, yaitu:
1. Tindakan
Tradisional
Tindakan
sosial dalam buku berjudul “The Problem
of Sociology”, tindakan tradisional dalam pelaksanaannya terdapat batasan
antara suatu kegiatan yang bermakna dan tidak bermakna dan dapat dijelaskan
dengan interpretative sosiologi. Ini karena tindakan tradisional adalah
tindakan yang dilakukan dibawah pengaruh adat dan kebiasaan. Hal tersebut
dilakukan secara sadar dan berdasarkan pada tindakan yang tradisional, bahkan
tindakan tersebut mengandung nilai subjektif dan tidak dapat dipahami (Lee: 176).
Jadi,
tindakan tradisional berdasarkan suatu nilai yang hanya mengikut pada tradisi
yang dilakukan dan hanya berdasarkan oleh para pendahulunya saja, tidak tahu
apa maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Tindakan ini bahkan tidak
rasional untuk dilaksanakan. Contohnya adalah upacara adat Jawa yang sudah ada semenjak zaman
dahulu. Kadang tujuannya bahkan tidak diketahui oleh yang melaksanakan. Contoh
laainnya adalah kegiatan mudik yang dilaksanakan setiap lebaran tiba.
2. Tindakan
Afektif
Tindakan
ini terjadi dibawah pengaruh keadaan emosional seseorang. Sama seperti tindakan
tradisional, tindaka afektif juga memiliki sifat naluriah, tidak sadar atau
tidak dapat dimengerti dan hanya dapat dijelaskan oleh psikologi dan
psikoanalisa. Tindakan afektif ditandai dengan fakta bahwa tindakan tersebut
tidak membawa tujuan untuk berakhir, tetapi sebagai tujuan itu sendiri dan
murni untuk kepentingan dirinya sendiri (Lee: 177). Tindakan ini juga
bersifat irrasional. Contohnnya
adalah seseorang bekerja lebih giat untuk mendapatkan pujian dari atasannya.
Tindakan ini didasarkan pada perasaan yang ingin mendapat perhatian lebih.
Contoh lainnya, orang tua akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya.
Bahkan melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri untuk
menyelamatkan anaknya. Tindakan afektif terhadap si anak, membuat orangtua
tersebut melakukan hal yang orang lain tidak mau lakukan.
3. Rasional
Berorientasikan Nilai
Rasionalitas
berorientasikan nilai dijujung tinggi oleh fakta yang individual dikendalikan
untuk mengesampingkan suatu yang ideal. Tindakan rasional berorientasikan nilai
berpegang pada agama, politik atau lainnya sehingga menyebabkan tidak
memperhitungkan pertimbangan lain yang relevan (Lee: 177).
Bagaimanapun,
hal ini tetap mengandung suatu yang irasional karena ini hanya mengangkat satu
tujuan khusus diatas semua dan tidak menghitung konsekuensi dari serangkaian
tujuan yang mungkin memiliki pada pencapaian tujuan-tujuan mereka sendiri.
Jadi,
rasional berorientasikan nilai adalah tindakan sosial yang memperhitungkan
manfaatnya, tapi tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan. yang
pasti tidakan tersebut dinilai baik dan benar oleh masyarakat sekitarnya.
Contohnya
yaitu seseorang yang melakukan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Contoh lainnya yaitu seorang pemuda
memberikan tempat duduknya kepada seorang nenek karena ia memiliki keyakinan
bahwa anak muda harus hormat kepada orang tua. Atau, seorang berpuasa sekian
hari untuk mendapatkan berkah sesuai dengan kepercayaannya.
4. Rasional Instrumental
Yaitu tindakan sosial yang dilaksanakan dengan pertimbangan tertentu
antara usaha, manfaat dan tujuan yang ingin didapat oleh orang tersebut.
tindakan sosial ini adalah tindakan paling rasional diantara tindakan sosial
lainnya.
Contohnya, seseorang ingin membeli kendaraan bermotor. Ia harus bekerja
keras untuk mengumpulkan uang. Uang tersebut disisihkan untuk keperluan pribadi
dan tabungan membeli kendaraan. Jika tabungannya sudah terkumpul atau sudah
mencukupi harga sebuah kendaraan bermotor, maka ia akan membeli kendaraan
tersebut.