Tampilkan postingan dengan label Teori Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Juni 2013

Konflik Sebagai Masalah Atau Solusi?

Konflik adalah pertentangan antara dua atau lebih pihak yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda dan ingin dicapai. Banyak orang memiliki persepsi yang berbeda terhadap konflik ini. Bagi banyak orang, konflik adalah suatu masalah yang harus dihindari. Konflik terjadi jika ada dalam suatu kelompok tersebut memiliki keinginan yang tidak lagi sama. Disatu sisi, ada yang memandang bahwa konflik adalah suatu hal yang biasa terjadi dalam dinamika masyarakat. Hal tersebut berfungsi sebagai penguat integritas masyarakat tersebut.

Pendekatan Fungsionalis

Pendekatan Fungsional merupakan teori yang dikembangkan oleh Talcott Parsons menyatakan bahwa masyarakat sebagai sebuah komponen atau kesatuan beserta fungsi-fungsinya yang saling mempengaruhi satu sama lain. Dapat disimpulkan bahwa tindakan sosial diarahkan pada tujuan dan diatur secara normative. 
Dalam hubungan bermasyarakat, anggota masyarakat melakukan hubungan timbal balik yang menghasilkan suatu sistem sosial. Menurut parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi semua system social, meliputi adaptasi (A), pencapaian tujuan atau  goal attainment (G), integrasi (I), dan Latensi (L).
Sebagaimana yang telah dipelajari mengenai teori Pendekatan Fungsionalisme oleh Talcott Parsons, maka kesimpulan berupa:

Alienasi

Karl Marx, seorang tokoh sosiologi yang memiliki prespektif konflik menyatakan bahwa manusia sebagai Homo Fabier yang berarti manusia pekerja. Manusia bekerja untuk mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang ia inginkan. Bekerja menurut Marx harus menghasilkan sesuatu. Bukan hanya hasil berupa barang. Hasil yang dimaksud Marx adalah manusia akan mendapatkan makna dan kepuasan dalam hidup. Tapi pada kenyataannya, kerja tidak sekedar bertujuan mencari makna dan melaksanakan kepentingan, kerja juga merupakan alat penting yang dipakai manusia untuk memperoleh makna dan dan memenuhi kebenaran (Sayers, 1988).
            Yang menjadi pertanyaan bagi Marx adalah nasib para buruh. Saat kapitalis merajalela, pabrik-pabrik mulai bermunculan. Oleh karena itu, diperlukan buruh-buruh yang dapat dibayar murah dengan cara memberikan buruh pekerjaan yang tidak mengembangkan kemampuan mereka.

Masalah Sosial dan Penanggulangan

Masalah sosial (social problem) menurut Gillin dan Gillin adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan yang membahayakan kelompok sosial atau mengahambat menghambat terpenuhinya keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut. Sehingga rusaknya suatu ikatan sosial. Ketidaksesuaian ini muncul karena tidak adanya integrasi yang harmonis dalam suatu unsur kehidupan masyarakat tersebut. Masalah sosial merupakan persoalan yang yang menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Menurut Soerjono Soekamto, masalah sosial ini timbul karena adanya kekurangan dalam diri manusia atau kelompok manusia yang bersumber pada faktor ekonomis, biologis, biopsikologis,dan kebudayaaan.sedangkan menurut Blumer (1971) dan Thompson (1988), yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan bersama.

Minggu, 28 April 2013

Klasifikasi Tindakkan Sosial Menurut Max Weber


Webber mengklasifikasikan tindakan sosial menjadi empat jenis, yaitu:
1.      Tindakan Tradisional
Tindakan sosial dalam buku berjudul “The Problem of Sociology”, tindakan tradisional dalam pelaksanaannya terdapat batasan antara suatu kegiatan yang bermakna dan tidak bermakna dan dapat dijelaskan dengan interpretative sosiologi. Ini karena tindakan tradisional adalah tindakan yang dilakukan dibawah pengaruh adat dan kebiasaan. Hal tersebut dilakukan secara sadar dan berdasarkan pada tindakan yang tradisional, bahkan tindakan tersebut mengandung nilai subjektif dan tidak dapat dipahami (Lee: 176).
Jadi, tindakan tradisional berdasarkan suatu nilai yang hanya mengikut pada tradisi yang dilakukan dan hanya berdasarkan oleh para pendahulunya saja, tidak tahu apa maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Tindakan ini bahkan tidak rasional untuk dilaksanakan. Contohnya adalah upacara adat Jawa yang sudah ada semenjak zaman dahulu. Kadang tujuannya bahkan tidak diketahui oleh yang melaksanakan. Contoh laainnya adalah kegiatan mudik yang dilaksanakan setiap lebaran tiba.
2.      Tindakan Afektif
Tindakan ini terjadi dibawah pengaruh keadaan emosional seseorang. Sama seperti tindakan tradisional, tindaka afektif juga memiliki sifat naluriah, tidak sadar atau tidak dapat dimengerti dan hanya dapat dijelaskan oleh psikologi dan psikoanalisa. Tindakan afektif ditandai dengan fakta bahwa tindakan tersebut tidak membawa tujuan untuk berakhir, tetapi sebagai tujuan itu sendiri dan murni untuk kepentingan dirinya sendiri (Lee: 177). Tindakan ini juga bersifat irrasional. Contohnnya adalah seseorang bekerja lebih giat untuk mendapatkan pujian dari atasannya. Tindakan ini didasarkan pada perasaan yang ingin mendapat perhatian lebih. Contoh lainnya, orang tua akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Bahkan melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan anaknya. Tindakan afektif terhadap si anak, membuat orangtua tersebut melakukan hal yang orang lain tidak mau lakukan.
3.      Rasional Berorientasikan Nilai
Rasionalitas berorientasikan nilai dijujung tinggi oleh fakta yang individual dikendalikan untuk mengesampingkan suatu yang ideal. Tindakan rasional berorientasikan nilai berpegang pada agama, politik atau lainnya sehingga menyebabkan tidak memperhitungkan pertimbangan lain yang relevan (Lee: 177).
Bagaimanapun, hal ini tetap mengandung suatu yang irasional karena ini hanya mengangkat satu tujuan khusus diatas semua dan tidak menghitung konsekuensi dari serangkaian tujuan yang mungkin memiliki pada pencapaian tujuan-tujuan mereka sendiri.
Jadi, rasional berorientasikan nilai adalah tindakan sosial yang memperhitungkan manfaatnya, tapi tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan. yang pasti tidakan tersebut dinilai baik dan benar oleh masyarakat sekitarnya.
Contohnya yaitu seseorang yang melakukan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Contoh lainnya yaitu seorang pemuda memberikan tempat duduknya kepada seorang nenek karena ia memiliki keyakinan bahwa anak muda harus hormat kepada orang tua. Atau, seorang berpuasa sekian hari untuk mendapatkan berkah sesuai dengan kepercayaannya.
4.     Rasional Instrumental
Yaitu tindakan sosial yang dilaksanakan dengan pertimbangan tertentu antara usaha, manfaat dan tujuan yang ingin didapat oleh orang tersebut. tindakan sosial ini adalah tindakan paling rasional diantara tindakan sosial lainnya.
Contohnya, seseorang ingin membeli kendaraan bermotor. Ia harus bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Uang tersebut disisihkan untuk keperluan pribadi dan tabungan membeli kendaraan. Jika tabungannya sudah terkumpul atau sudah mencukupi harga sebuah kendaraan bermotor, maka ia akan membeli kendaraan tersebut. 

Rabu, 13 Maret 2013

Alasan Mengapa Sosiologi Berkembang Pesat di Eropa


Sosiologi diambil dalam bahasa Yunani yaitu socius yang berarti kawan dan logos yang berarti ilmu. Jadi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi antar manusia dalam bermasyarakat. Sebenarnya, Sosiologi sudah dikonsepkan oleh Plato namun yang menamai dengan Sosiologi adalah Auguste Comte di abad 19. Sehingga ia disebut sebagai bapak Sosiologi.
Sosiologi berkembang pesat menjelang abad 19, terutama di Eropa dan Amerika. Banyak latar belakang historis yang menyebabkan hal ini. Di Eropa, dua kejadian besar tersebut berdampak pada perubahan struktur yang ada pada masyarakat. Memunculkan dua pihak yang saling bertentangan. Dua kejadian besar tersebu adalah Revolusi Industri dan bangkitnya kapitalisme serta Revolusi Politik di Perancis yang berakibat pada Revolusi Perancis. Sedang di Amerika Serikat, sosiologi berkembang karena adanya Revolusi Amerika atau kemerdekaan Amerika. Dari tiga peristiwa tersebut memunculkan satu masalah baru yang sangat berpengaruh bagi tatanan kehidupan dalam bermasyarakat yang mengakibatkan munculnya ancaman sosial berupa disintergrasi sosial. Menurut Ritzer, kekuatan sosiologi yang mendorong berkembangnya sosiologi yaitu Revolusi Politik, Revolusi Industri dan munculnya Kapitalisme, munculnya sosialisme, urbanisasi, perubahan keagamaan, feminism, dan pertumbuhan ilmu (2008: 5-8)
Revolusi Industri di Inggris muncul pada abad 19 dan dampaknya mulai menyebar pada abad ke 19. Revolusi ini terjadi karen perubahan sistem dari pertanian dalam jumlah besar menjadi industri. Ilmu pengetahuan yang berkembang membuat teknologi semakin berkembangn dan mempermudah pekerjaan manusia serta membuat barang produksi diproduksi dalam jumlah besar. Setelah penemuan mesin uap, industri semakin besar. Industri di Inggris semakin besar karena bahan baku industri mereka dapatkan dengan murah dari Negara jajahan mereka. Mesin yang digunakan semakin canggih sehingga meningkatkan kuantitas barang tanpa perlu membayar pegawai lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kesetimpangan sosial antara orang yang memiliki barang produksi dengan yang tidak memiliki barang produksi. Konsep kapitalis pun muncul. Sehingga para borjuis memperkaya diri mereka sendiri, sedangkan para proletar mencoba bertahan hidup diantara himpitan ekonomi dan kemiskinan. Pada saat itu, terjadi urbanisasi besar-besaran karena banyak beranggapan jika bekerja di kota gaji mereka lebih besar daripada hanya berladang di desa. Hal ini menyebabkan banyak gelandangan dan pengangguran memenui kota.
Hal ini mengakibatkan Karl Marx, Max Webber dan Georg Simmel memusatkan perhatian mereka pada sosiologi. Mereka menyusun teori yang dapat digunakan untuk mencegah disintegrasi antar masyarakat seperti Marx dengan teori Sosialisnya. Dimana barang produksi dimiliki oleh Negara dan digunakan secara bersamaan. Mereka menelti, menciptakan teori baru yang dapat menyelasaikan masalah saat itu seperti ketimpangan sosial, disintegrasi sosial, dan kapitalisme yang merajalela. Karena ada keinginan dari masyarakat untuk menciptakan tidak adanya kesetimpangan, terciptanya intergritas antara masyarakat serta mencegah individualistis yang berlebihan maka sosiologi berkembang pesat.
Lalu, Revolusi Amerika adalah kejadian dimana Amerika menyatakan diri merdeka dari penjajahan Inggris. Tapi, efek dari revolusi Amerika ini adalah banyaknya migrasi dari Eropa yang masuk ke Amerika akibat krisis ekonomi di Eropa. Tanah yang belum di gunakan mulai digunakan sebagai ladang, ladang semakin luas namun pekerja tidak mencukupi sehingga mereka membeli budak dari Afrika untuk dipekerjakan di ladang. Ada pertentangan antara kaum humanis dengan kaum pemilik ladang. Amerika menjadi perang saudara dan terbagi dalam dua kelompok, yaitu yang membela hak budak dan yang dan pihak yang mementingkan ladangnya. Kemajuan teknologi dapat diterima dengan baik baik disini. Namun ada satu masalah yang muncul dari kemajuan-kemajuan ini, yaitu masalah sosial.
Mereka merasa perlu untuk menangani masalah sosial ini. Muncul organisasi yang menangani masalah sosial tersebut yang berlatar belakang Kristen. Baru diabad 19, para pelaku organisasi sosial ini merasa perlu adanya ilmu yang mendasari tindakan sosialnya. Gerakan sosial ini masih bersifat teologis dan filosofis. Dalam perkembangannya, sosiologi di Amerika lebih diarahkan kepada perbaikan masyarakat. Oleh karena itu perkembangan sosiologi di Amerika mengalami perkembangan yang pesat.
Sedangkan di Perancis karena adanya Revolusi Amerika menjadi dasar terjadinya Revolusi Perancis. Lafayette yang membantu kemerdekaan Amerika saat itu terkesan dengan Undang-undang mengenai hak asasi manusia yang dikumandangkan Amerika. Ditambah dengan keadaan Perancis saat itu dipimpin oleh seorang pemimpin yang suka berfoya-foya dan tidak tegas membuat warga ingin menggulingkan kekuasaan Louis XVI. Hal ini berujung pada penyerbuan ke Istana dan pembebasan tawanan politik di penjara Bastille serta pemenggalan Raja Louis XVI.
Dampak dari Revolusi Perancis ini sangat besar seperti hilangnya sistem feodalisme karena mengelompokkan rakyat berdasarkan status sosialnya, berkembangnya ide supermasi hukum UUD merupakan kekuasaan tertinggi, dan lainnya.
Sosiologi berkembang dengan pesat karena para theorist melihat bahwa banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat Perancis semenjak Revolusi Perancis terjadi. Baik dalam hubungan antara masyarakat dengan masyarakat maupun masyarakat dengan pemerintahan. Sosiologi juga dianggap penting dalam perkembagan Negara. Tokoh sosiologi yang lahir pada masa ini adalah Auguste Comte dan Emil Durkheim.
Sumber:
“Revolusi Perancis” diunduh dari http://mustaqimzone.wordpress.com/2012/06/27/revolusi-perancis/, 28 Februari 2013
Laeyendeker, L. 1983. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Jakarta: PT. Gramedia
Ritzer, George. 2008. Modern Sociological Theory. New York: McGraw-Hill