Rabu, 13 Maret 2013

Alasan Mengapa Sosiologi Berkembang Pesat di Eropa


Sosiologi diambil dalam bahasa Yunani yaitu socius yang berarti kawan dan logos yang berarti ilmu. Jadi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi antar manusia dalam bermasyarakat. Sebenarnya, Sosiologi sudah dikonsepkan oleh Plato namun yang menamai dengan Sosiologi adalah Auguste Comte di abad 19. Sehingga ia disebut sebagai bapak Sosiologi.
Sosiologi berkembang pesat menjelang abad 19, terutama di Eropa dan Amerika. Banyak latar belakang historis yang menyebabkan hal ini. Di Eropa, dua kejadian besar tersebut berdampak pada perubahan struktur yang ada pada masyarakat. Memunculkan dua pihak yang saling bertentangan. Dua kejadian besar tersebu adalah Revolusi Industri dan bangkitnya kapitalisme serta Revolusi Politik di Perancis yang berakibat pada Revolusi Perancis. Sedang di Amerika Serikat, sosiologi berkembang karena adanya Revolusi Amerika atau kemerdekaan Amerika. Dari tiga peristiwa tersebut memunculkan satu masalah baru yang sangat berpengaruh bagi tatanan kehidupan dalam bermasyarakat yang mengakibatkan munculnya ancaman sosial berupa disintergrasi sosial. Menurut Ritzer, kekuatan sosiologi yang mendorong berkembangnya sosiologi yaitu Revolusi Politik, Revolusi Industri dan munculnya Kapitalisme, munculnya sosialisme, urbanisasi, perubahan keagamaan, feminism, dan pertumbuhan ilmu (2008: 5-8)
Revolusi Industri di Inggris muncul pada abad 19 dan dampaknya mulai menyebar pada abad ke 19. Revolusi ini terjadi karen perubahan sistem dari pertanian dalam jumlah besar menjadi industri. Ilmu pengetahuan yang berkembang membuat teknologi semakin berkembangn dan mempermudah pekerjaan manusia serta membuat barang produksi diproduksi dalam jumlah besar. Setelah penemuan mesin uap, industri semakin besar. Industri di Inggris semakin besar karena bahan baku industri mereka dapatkan dengan murah dari Negara jajahan mereka. Mesin yang digunakan semakin canggih sehingga meningkatkan kuantitas barang tanpa perlu membayar pegawai lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kesetimpangan sosial antara orang yang memiliki barang produksi dengan yang tidak memiliki barang produksi. Konsep kapitalis pun muncul. Sehingga para borjuis memperkaya diri mereka sendiri, sedangkan para proletar mencoba bertahan hidup diantara himpitan ekonomi dan kemiskinan. Pada saat itu, terjadi urbanisasi besar-besaran karena banyak beranggapan jika bekerja di kota gaji mereka lebih besar daripada hanya berladang di desa. Hal ini menyebabkan banyak gelandangan dan pengangguran memenui kota.
Hal ini mengakibatkan Karl Marx, Max Webber dan Georg Simmel memusatkan perhatian mereka pada sosiologi. Mereka menyusun teori yang dapat digunakan untuk mencegah disintegrasi antar masyarakat seperti Marx dengan teori Sosialisnya. Dimana barang produksi dimiliki oleh Negara dan digunakan secara bersamaan. Mereka menelti, menciptakan teori baru yang dapat menyelasaikan masalah saat itu seperti ketimpangan sosial, disintegrasi sosial, dan kapitalisme yang merajalela. Karena ada keinginan dari masyarakat untuk menciptakan tidak adanya kesetimpangan, terciptanya intergritas antara masyarakat serta mencegah individualistis yang berlebihan maka sosiologi berkembang pesat.
Lalu, Revolusi Amerika adalah kejadian dimana Amerika menyatakan diri merdeka dari penjajahan Inggris. Tapi, efek dari revolusi Amerika ini adalah banyaknya migrasi dari Eropa yang masuk ke Amerika akibat krisis ekonomi di Eropa. Tanah yang belum di gunakan mulai digunakan sebagai ladang, ladang semakin luas namun pekerja tidak mencukupi sehingga mereka membeli budak dari Afrika untuk dipekerjakan di ladang. Ada pertentangan antara kaum humanis dengan kaum pemilik ladang. Amerika menjadi perang saudara dan terbagi dalam dua kelompok, yaitu yang membela hak budak dan yang dan pihak yang mementingkan ladangnya. Kemajuan teknologi dapat diterima dengan baik baik disini. Namun ada satu masalah yang muncul dari kemajuan-kemajuan ini, yaitu masalah sosial.
Mereka merasa perlu untuk menangani masalah sosial ini. Muncul organisasi yang menangani masalah sosial tersebut yang berlatar belakang Kristen. Baru diabad 19, para pelaku organisasi sosial ini merasa perlu adanya ilmu yang mendasari tindakan sosialnya. Gerakan sosial ini masih bersifat teologis dan filosofis. Dalam perkembangannya, sosiologi di Amerika lebih diarahkan kepada perbaikan masyarakat. Oleh karena itu perkembangan sosiologi di Amerika mengalami perkembangan yang pesat.
Sedangkan di Perancis karena adanya Revolusi Amerika menjadi dasar terjadinya Revolusi Perancis. Lafayette yang membantu kemerdekaan Amerika saat itu terkesan dengan Undang-undang mengenai hak asasi manusia yang dikumandangkan Amerika. Ditambah dengan keadaan Perancis saat itu dipimpin oleh seorang pemimpin yang suka berfoya-foya dan tidak tegas membuat warga ingin menggulingkan kekuasaan Louis XVI. Hal ini berujung pada penyerbuan ke Istana dan pembebasan tawanan politik di penjara Bastille serta pemenggalan Raja Louis XVI.
Dampak dari Revolusi Perancis ini sangat besar seperti hilangnya sistem feodalisme karena mengelompokkan rakyat berdasarkan status sosialnya, berkembangnya ide supermasi hukum UUD merupakan kekuasaan tertinggi, dan lainnya.
Sosiologi berkembang dengan pesat karena para theorist melihat bahwa banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat Perancis semenjak Revolusi Perancis terjadi. Baik dalam hubungan antara masyarakat dengan masyarakat maupun masyarakat dengan pemerintahan. Sosiologi juga dianggap penting dalam perkembagan Negara. Tokoh sosiologi yang lahir pada masa ini adalah Auguste Comte dan Emil Durkheim.
Sumber:
“Revolusi Perancis” diunduh dari http://mustaqimzone.wordpress.com/2012/06/27/revolusi-perancis/, 28 Februari 2013
Laeyendeker, L. 1983. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Jakarta: PT. Gramedia
Ritzer, George. 2008. Modern Sociological Theory. New York: McGraw-Hill

Tidak ada komentar:

Posting Komentar