Sosiologi diambil dalam bahasa Yunani yaitu socius yang berarti kawan dan logos yang berarti ilmu. Jadi Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi antar manusia dalam
bermasyarakat. Sebenarnya, Sosiologi sudah dikonsepkan oleh Plato namun yang
menamai dengan Sosiologi adalah Auguste Comte di abad 19. Sehingga ia disebut
sebagai bapak Sosiologi.
Sosiologi berkembang pesat menjelang abad 19, terutama
di Eropa dan Amerika. Banyak latar belakang historis yang menyebabkan hal ini.
Di Eropa, dua kejadian besar tersebut berdampak pada perubahan struktur yang
ada pada masyarakat. Memunculkan dua pihak yang saling bertentangan. Dua
kejadian besar tersebu adalah Revolusi Industri dan bangkitnya kapitalisme
serta Revolusi Politik di Perancis yang berakibat pada Revolusi Perancis.
Sedang di Amerika Serikat, sosiologi berkembang karena adanya Revolusi Amerika
atau kemerdekaan Amerika. Dari tiga peristiwa tersebut memunculkan satu masalah
baru yang sangat berpengaruh bagi tatanan kehidupan dalam bermasyarakat yang
mengakibatkan munculnya ancaman sosial berupa disintergrasi sosial. Menurut
Ritzer, kekuatan sosiologi yang mendorong berkembangnya sosiologi yaitu Revolusi
Politik, Revolusi Industri dan munculnya Kapitalisme, munculnya sosialisme,
urbanisasi, perubahan keagamaan, feminism, dan pertumbuhan ilmu (2008: 5-8)
Revolusi Industri di Inggris muncul pada abad 19 dan
dampaknya mulai menyebar pada abad ke 19. Revolusi ini terjadi karen perubahan
sistem dari pertanian dalam jumlah besar menjadi industri. Ilmu pengetahuan
yang berkembang membuat teknologi semakin berkembangn dan mempermudah pekerjaan
manusia serta membuat barang produksi diproduksi dalam jumlah besar. Setelah
penemuan mesin uap, industri semakin besar. Industri di Inggris semakin besar
karena bahan baku industri mereka dapatkan dengan murah dari Negara jajahan
mereka. Mesin yang digunakan semakin canggih sehingga meningkatkan kuantitas
barang tanpa perlu membayar pegawai lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya
kesetimpangan sosial antara orang yang memiliki barang produksi dengan yang
tidak memiliki barang produksi. Konsep kapitalis pun muncul. Sehingga para
borjuis memperkaya diri mereka sendiri, sedangkan para proletar mencoba
bertahan hidup diantara himpitan ekonomi dan kemiskinan. Pada saat itu, terjadi
urbanisasi besar-besaran karena banyak beranggapan jika bekerja di kota gaji
mereka lebih besar daripada hanya berladang di desa. Hal ini menyebabkan banyak
gelandangan dan pengangguran memenui kota.
Hal ini mengakibatkan Karl Marx, Max Webber dan Georg
Simmel memusatkan perhatian mereka pada sosiologi. Mereka menyusun teori yang
dapat digunakan untuk mencegah disintegrasi antar masyarakat seperti Marx
dengan teori Sosialisnya. Dimana barang produksi dimiliki oleh Negara dan
digunakan secara bersamaan. Mereka menelti, menciptakan teori baru yang dapat
menyelasaikan masalah saat itu seperti ketimpangan sosial, disintegrasi sosial,
dan kapitalisme yang merajalela. Karena ada keinginan dari masyarakat untuk
menciptakan tidak adanya kesetimpangan, terciptanya intergritas antara
masyarakat serta mencegah individualistis yang berlebihan maka sosiologi
berkembang pesat.
Lalu, Revolusi Amerika adalah kejadian dimana Amerika
menyatakan diri merdeka dari penjajahan Inggris. Tapi, efek dari revolusi
Amerika ini adalah banyaknya migrasi dari Eropa yang masuk ke Amerika akibat
krisis ekonomi di Eropa. Tanah yang belum di gunakan mulai digunakan sebagai
ladang, ladang semakin luas namun pekerja tidak mencukupi sehingga mereka
membeli budak dari Afrika untuk dipekerjakan di ladang. Ada pertentangan antara
kaum humanis dengan kaum pemilik ladang. Amerika menjadi perang saudara dan
terbagi dalam dua kelompok, yaitu yang membela hak budak dan yang dan pihak
yang mementingkan ladangnya. Kemajuan teknologi dapat diterima dengan baik baik
disini. Namun ada satu masalah yang muncul dari kemajuan-kemajuan ini, yaitu
masalah sosial.
Mereka merasa perlu untuk menangani masalah sosial
ini. Muncul organisasi yang menangani masalah sosial tersebut yang berlatar
belakang Kristen. Baru diabad 19, para pelaku organisasi sosial ini merasa
perlu adanya ilmu yang mendasari tindakan sosialnya. Gerakan sosial ini masih
bersifat teologis dan filosofis. Dalam perkembangannya, sosiologi di Amerika
lebih diarahkan kepada perbaikan masyarakat. Oleh karena itu perkembangan
sosiologi di Amerika mengalami perkembangan yang pesat.
Sedangkan di Perancis karena adanya Revolusi Amerika
menjadi dasar terjadinya Revolusi Perancis. Lafayette yang membantu kemerdekaan
Amerika saat itu terkesan dengan Undang-undang mengenai hak asasi manusia yang
dikumandangkan Amerika. Ditambah dengan keadaan Perancis saat itu dipimpin oleh
seorang pemimpin yang suka berfoya-foya dan tidak tegas membuat warga ingin
menggulingkan kekuasaan Louis XVI. Hal ini berujung pada penyerbuan ke Istana
dan pembebasan tawanan politik di penjara Bastille serta pemenggalan Raja Louis
XVI.
Dampak dari Revolusi Perancis ini sangat besar seperti
hilangnya sistem feodalisme karena mengelompokkan rakyat berdasarkan status
sosialnya, berkembangnya ide supermasi hukum UUD merupakan kekuasaan tertinggi,
dan lainnya.
Sosiologi berkembang dengan pesat karena para theorist
melihat bahwa banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat Perancis semenjak
Revolusi Perancis terjadi. Baik dalam hubungan antara masyarakat dengan
masyarakat maupun masyarakat dengan pemerintahan. Sosiologi juga dianggap
penting dalam perkembagan Negara. Tokoh sosiologi yang lahir pada masa ini
adalah Auguste Comte dan Emil Durkheim.
Sumber:
“Revolusi Perancis” diunduh dari http://mustaqimzone.wordpress.com/2012/06/27/revolusi-perancis/, 28 Februari 2013
Laeyendeker, L. 1983. Tata, Perubahan, dan
Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Jakarta: PT. Gramedia
Ritzer, George. 2008. Modern Sociological Theory. New
York: McGraw-Hill
Tidak ada komentar:
Posting Komentar