Tampilkan postingan dengan label FYI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FYI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2014

Peran Sosial yang Ditimbulkan dari Keadaan Sakit

Menurut Foster, entah dalam buku apa dan tahun berapa (soalnya ini nyalin dari ppt dosen), sakit mempunyai dan menimbulkan peranan sosial tersendiri, baik bagi si penderita sakit maupun bagi keluarga yang merawatnya. Beberapa peranan tersebut adalah:
  • Sakit memberi kebebasan dari tekanan hidup yang tidak dapat lagi ditahan. Ketika seseorang sakit, maka mau tidak mau dia harus beristirahat untuk memulihkan tubuhnya. Bayangkan saja ketika sakit, namun masih mengerjakan tugas. Otak pun tidak dapat berpikir dengan jernih.
  • Sebagai salah satu cara menutupi kegagalan. Ketika seseorang melaksanakan tugas ketika tubuhnya sedang dalam keadaan tidak maksimal sehingga hasilnya tidak maksimal pula, maka orang tersebut akan menyalahkan sakitnya tersebut. Contoh: “Gara-gara sakit saat mengerjakan tugas ini, saya hanya mendapat nilai B”.
  • Salah satu cara mendapat perhatian dari orang lain. Ketika seseorang sakit, maka orang tersebut pasti mendapat perhatian khusus dari orang sekitarnya. Misal: “Kamu sakit? Ya sudah, istirahat dulu. Tidak usah memaksakan diri”.
  • Rumah sakit sebagai tempat hiburan dan istirahat.  Ketika seseorang diopname, Secara tidak langsung, orang tersebut akan istirahat dari tugasnya. Keluarga yang menjenguk pun akan menjadikan rumah sakit sebagai hiburan dengan mengajak ngobrol keluarga dari pasien lain.
  • Sebagai alat pengawas sosial. 
  • Sakit sebagai akibat dari dosa yang telah dilakukan (Dalam Islam, sakit adalah penggugur dosa). Sehingga orang tersebut dapat merenungi kesalahannya yang lalu.
Talcot Parson mengatakan bahwa orang sakit juga memiliki peranan hak dan kewajiban dalam keadaan sakitnya tersebut.
Dari hak yang harus diterimanya:
  • Dibebaskan dari tanggung jawab sosial
  • Memperoleh perawatan sampai ia sembuh
Serta kewajiban yang harus dijalankannya:
  • Kewajiban untuk sembuh
  • Mencari pertolongan dan bekerja sama dengan dokter atau petugas kesehatan untuk mengatasi dan mengobati sakitnya tersebut
Sumber: Catatan yang berasal dari PPt Mbak Wiwis ^^v

Kamis, 14 Maret 2013

Parenting Style


Ya, minggu lalu pelajaran Pengantar Psikologi gue ngebahas masalah Perkembangan Manusia. Ini pelajaran yang menarik dan sangat penting bagi para pekerja sosial dimanapun mereka berada. Dari materi yang dibahas, ada satu pembahasan yang sangat menarik untuk di publish ke Tumblr. Bagian tersebut adalah Parenting Style. Pembahasan ini bukan pembahasan utama, tapi pembahasan ini yang bikin diskusi keluar dari topik utama (fyi, that’s because of me). Dari pada panjang lebar, mending liat aja dah 
Parenting Style, Termasuk Orang Tua atau Calon Orang Tua bagaimanakah Kamu?

Setiap orang punya gaya mereka masing-masing, termasuk dalam mengasuh anak mereka. Menurut Diana Baumrind (1971, 1991), orang tua berinteraksi dengan anak-anaknya menggunakan satu dari empat dasar cara:
  1. Authoritarian parenting adalah pola pengasuhan yang membatasi dan memberi hukuman dimana orang tuanya mendesak anak untuk mengikuti arahan orang tua dan menilai kerja keras dan usaha. Kebiasaan orangtuanya adalah terbatas dan hukuman. Anak hanya diberi hukuman jika melakukan kesalahan tanpa diberi penjelasan mengapa ia dihukum. Perintah tidak dapat dipertanyakan. Sedikit memberi hubungan lisan. Akibat yang didapat oleh anak yaitu kegelisahan tentang perbandingan sosial, sedikit inisiatif, kemampuan komunikasi yang rendah.
  2. Authoritative parenting adalah pola pengasuhan yang mendorong kemandirian anak-anak (tetapi masih menempatkan batasan dan kontrol atas perilaku mereka); hal tersebut termasuk luasnya lisan beri-dan-ambil dan interaksi yang hangat dan ramah dengan anaknya. Kebiasaan orantua biasanya mendorong kemandirian dibawah batasan-batasan. Pemberian hukuman disesuaikan dengan kesalahan yang dibuat sang anak begitupula pemberian hadian. Kekeluargaan terasa hangat dan ramah. Anak akan terbentuk untuk menjalankan kompetensi sosial, kepercayaan diri tinggi, serta memiliki tanggung jawab sosial.
  3. Neglectful parenting adalah pola pengasuhan dimana orang tua tidak dilibatkan dalam kehidupan anaknya. Kebiasaan orangtuanya adalah sedikit terlibatan dalam kehidupan anaknya. Mmisalnya saja orangtua yang selalu sibuk. Tidak menyadari apa yang dilakukan anaknya. Akibat bagi sang anak adalah kegelisahan tentang perbandingan sosial, misalnya saja mereka merasa kasih sayang orangtua temannya lebih besar dari kasihsayang orangtuanya, sedikit inisiatif, kemampuan komunikasi yang rendah.
  4. Indulgent parenting adalah pola pengasuhan dimana orang tua dilibatkan dalam hidup anaknya tetapi ditempatkan beberapa batasan pada mereka. Kebiasaan orangtua jenis ini dalam kehidupan mereka adalah melibatkan diri dengan anaknya tetapi tanpa menempatkan permintaan orangtua ke anak. Sangat serba membolehkan. Akibat yang bisa diterima anak ini adalah kegelisahan tentang perbandingan sosial, sedikit inisiatif, serta lebih manja.
Dari beberapa jenis diatas, ada yang jenis orang tua manakah kamu? (sori, endingnya ga bagus. Lagi kejar tayang).
Oiya, btw ini pembahasan presentasi dari kelompok temen gue. Dan bagi kelompok yang belum presentasi, setiap orang diwajibkan membuat resumenya. Pada saat membuat resume, gue ngebaca bagian ini dan gue tertarik untuk posting bagian ini di tumblr. (sekali-kali, tumblr isinya bermanfaat boleh kan?). Maklum, ketika randomers bener, pasti lagi ada yang ga beres. 
sumber: 
Santrock, Jhon W. 2005. Psychology 7th Edition. New York: McGraw-Hill
ada sumber lain, tapi ga tau dari mana. lupa nanya bukunya. Tulisan yang ada disini dibuat dengan sedikit perubahan.