Rabu, 19 Juni 2013

Konflik Sebagai Masalah Atau Solusi?

Konflik adalah pertentangan antara dua atau lebih pihak yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda dan ingin dicapai. Banyak orang memiliki persepsi yang berbeda terhadap konflik ini. Bagi banyak orang, konflik adalah suatu masalah yang harus dihindari. Konflik terjadi jika ada dalam suatu kelompok tersebut memiliki keinginan yang tidak lagi sama. Disatu sisi, ada yang memandang bahwa konflik adalah suatu hal yang biasa terjadi dalam dinamika masyarakat. Hal tersebut berfungsi sebagai penguat integritas masyarakat tersebut.
Menurutu Marx, konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi karena adanya perbedaan kelas sosial. Konflik terjadi karena adanya pertentanga dua kelas yang berbeda. Marx menganggap bahwa konflik adalah suatu permasalahan sosial yang dapat menyebabkan disintegrasi. Dilihat dari latar belakang sejarah, teori konflik ini berkembang karena adanya ekonomi kapitalisme dimana ada ketimpangan nasib yang sangat timpang antara para buruh dengan pemilik modal. Sehingga, dengan persamaan kelas dan tidak adanya kepemilikan modal oleh pihak tertentu dapat menghilangkan kesetimpangan yang ada. Selain itu, konflik sebagai permasalahan sosial yaitu konflik yang benar-benar membuat perpecahan antar pihak yang bertikai. Saling menjatuhkan dan menyerang dengan tujuan menjatuhkan lawan, mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka baik dengan cara yang benar maupun dengan cara yang salah. Misalnya saja konflik antara Israel dengan Palestina. Israel mempunyai tujuan untuk menjadikan negeri Palestina sebagai negaranya. Sedangkan, rakyat Palestina berusaha mati-matian untuk mempertahankan negerinya. Contoh lain yang dapat dilihat disekitar kita adalah ketika ada tawuran anak SMA yang diakibatkan saling mengejek nama sekolah atau karena ada murid yang di bully oleh siswa sekolah lain. Tujuan tawuran ini menurut mereka adalah untuk menjaga nama baik dan harga diri sekolahnya. Jika tidak meladeni tantangan tersebut, jika tidak mereka akan dianggap penakut. Hal ini dapat mengakibatkan pertikaian yang tidak kunjung usai.
Berangkat dari teori fungsionalisme yang diajukan oleh Talcott Parsons menyatakan bahwa masyarakat sebagai sebuah komponen atau kesatuan beserta fungsi-fungsinya yang saling mempengaruhi satu sama lain, ternyata teori tersebut tidak lagi relevan dengan kenyataan yang ada. Talcott Parsons melihat konflik sebagai suatu keadaan yang wajar karena tidak ada sistem sosial yang terintegrasi secara sempurna. Pasti ada ketidaksesuaian dalam prioritas yang diberikan. Baginya, konflik adalah gejala ketegangan yang harus diatasi oleh sistem untuk mempertahankan keseimbangan. Pandangan mengenai konflik adalah suatu hal yang wajar karena manusia adalah individu yang pasti memiliki keinginan pribadi yang mungkin akan bertentangan denga keinginan orang banyak. Konflik tidaklah selalu mengarah ke perpecahan, melainkan mengarah kepada integrasi yang makin kuat. Misalnya saja dalam suatu organisasi terdapat konflik yang terjadi karena perbedaan pendapat individu, maka hal tersebut maka para anggota yang lain akan bersatu padu untuk menyelesaikan konflik tersebut dan saling berunding. Selain itu, konflik yang terjadi dapat menjadi pelajaran bagi organisasi tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan serta untuk mengembangkan dirinya melalui konflik yang telah terjadi. Contoh lain yaitu apabila organisasi tersebut mengalami konflik dengan organisasi lain, maka anggota masing-masing akan mempererat ikatan kelompok mereka untuk menyatukan tujuan mereka agar tidak terpecah belah.

Konflik merupakan suatu keadaan alami karena dalam suatu kelompok, keinginan individu tidaklah selalu sama bahkan bertentangan dengan orang lain. Konflik pasti akan muncul dalam setiap manusia yang berinteraksi dengan masyarakat. Oleh karena itu, konflik tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar