Karl Marx, seorang tokoh
sosiologi yang memiliki prespektif konflik menyatakan bahwa manusia sebagai Homo Fabier yang berarti manusia
pekerja. Manusia bekerja untuk mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang ia
inginkan. Bekerja menurut Marx harus menghasilkan sesuatu. Bukan hanya hasil
berupa barang. Hasil yang dimaksud Marx adalah manusia akan mendapatkan makna dan
kepuasan dalam hidup. Tapi pada kenyataannya, kerja tidak sekedar bertujuan
mencari makna dan melaksanakan kepentingan, kerja juga merupakan alat penting
yang dipakai manusia untuk memperoleh makna dan dan memenuhi kebenaran (Sayers,
1988).
Yang menjadi pertanyaan bagi Marx adalah nasib para
buruh. Saat kapitalis merajalela, pabrik-pabrik mulai bermunculan. Oleh karena
itu, diperlukan buruh-buruh yang dapat dibayar murah dengan cara memberikan
buruh pekerjaan yang tidak mengembangkan kemampuan mereka.
Mereka tidak bisa
memenuhi kepuasan dalam hidup mereka sebagai buruh. Hal inilah yang menyebabkan
Marx membuat teori alienasi. Marx mengatakan kondisi alineasi yang bersifat
patologis adalah kondisi sosial tidak memperbolehkan manusia mewujudkan
keinginannya melalui kerja. Menurut Marx, alienasi merupakan akibat dari
kapitalisme industrial. Alineasi merupakan ciri dari kapitalisme karena adanya
pembagian kerja meliputi pemisahan yang penting antara konsepsi dan keputusan
kerja. Buruh biasanya hanya membawa konsep kerja yang dimiliki orang lain. Proses
kerja para buruh dipisah-pisahkan atau di tingkat-tingkatkan, sehingga para
pekerja hanya melakukan sedikit dari pembuatan satu barang produksi (Sandeson,
2000).
Bisa disimpulkan bahwa alienasi adalah keterasingan
manusia dari lingkungan sekitarnya maupun dengan lingkungannya sendiri. Manusia
hanya menjadi objek dari suatu sistem ketenagakerjaan sehingga pekerjaan tidak
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan sosial mereka dengan keluarga
maupun tetangga mereka berkurang karena waktu mereka lebih banyak habis untuk
pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka (terutama bagi buruh) tidak dapat memenuhi
hasrat mereka. Tidak pula dapat mengembangkan kemampuan individu tersebut.
Alienasi merupakan kondisi dimana manusia terasingkan
dari sifat sejati mereka sebagai manusia. Marx berargumen bahwa manusia saling
terasingkan satu sama lain. Mereka terasingkan dari barang yang mereka buat, bahan
pembuat dan ide, para buruh ini juga terasingkan dari masyarakat mereka. Akar
dari masalah alienasi ini adalah hubungan sosial manusia telah terstruktur oleh
sistem sosial yang dibentuk oleh “kesucian” (keagungan) kepemilikan pribadi
atas alat-alat produksi (dalam hal ini kapitalis). Dalam masyarakat kapitalis,
seperti sistem kemanusiaan, manusia menjadi komoditas belaka, sistem tenaga kerja seperti merendahkan manusia, tenaga kerja,
yang dengan mudah dapat dibeli dan dijual di pasar tenaga kerja. dalam sistem
tersebut, efek alienasi dari kas perhubungan melampaui institusi ekonomi untuk
membentuk sikap dan perilaku manusia dalam semua hubungan sosialnya. Walaupun
alienasi terjadi pada setiap lapisan masyarakat kapitalis, namun jika mencapai
puncaknya dapat melumphkan pembangunan.
Dalam kapitalis modern, Harry Braverman berpendapat bahwa
sejak akhir abad 19 minat pokok kapitalis adalah mendapatkan kekuasaan atas
kekuatan kerja dan proses kerja. Hal ini dapat mengakibatkan adanya suatu
kegiatan rutin, berulang-ulang, dan mengakibatkan buruh tidak memikirkan
tugas-tugas lain mereka selain pekerjaan di pabrik. Buruh dibuat seperti
makhluk otomatis sehingga kehilangan dasar kemanusiaan mereka. Dehumanisasi ini
tidak hanya terjadi di kalangan buruh, namun juga di semua pekerjaan kantor.
Contoh dari alineasi ini yang paling mudah dilihat kaum
buruh perusahaan sepatu. Dari setiap bagian sepatu tersebut dibuat dari susunan
yang berbeda dan dibuat berdassarkan bagian-bagiannya sebelum menjadi sepatu
yang utuh. Para buruh tersebut terbagi menjadi subsistem pembuatan sepatu
tersebut. Ada bagian pembuat badan sepatu, pembuatan sol, dan bagian perekat
antara badan dengan solnya. Para buruh ini hanya mengerjakan satu bagian
sepatu, namun tidak mengetahui hasil akhir dari sepatu tersebut. Hal ini tidak
membuat suatu kepuasan tersendiri bagi buruh tersebut. Hal ini membuat para
buruh dibayar murah. Burh juga tidak dapat berpartisipasi banyak di perusahaan
melainkan hanya sebagai pembuat barang produksi di tempat yang sama.
Sumber:
Sanderson, Stephen K. 2000. “Sosiologi Makro (Sebuah
Pendekatan Terhadap Realitas Sosial)”. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada
Cuff, E.C.,
dan Payne, G.C.F. 1984. “Prespectives in
Sociology”. London: George Allen & Unwin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar