Rabu, 19 Juni 2013

Alienasi

Karl Marx, seorang tokoh sosiologi yang memiliki prespektif konflik menyatakan bahwa manusia sebagai Homo Fabier yang berarti manusia pekerja. Manusia bekerja untuk mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang ia inginkan. Bekerja menurut Marx harus menghasilkan sesuatu. Bukan hanya hasil berupa barang. Hasil yang dimaksud Marx adalah manusia akan mendapatkan makna dan kepuasan dalam hidup. Tapi pada kenyataannya, kerja tidak sekedar bertujuan mencari makna dan melaksanakan kepentingan, kerja juga merupakan alat penting yang dipakai manusia untuk memperoleh makna dan dan memenuhi kebenaran (Sayers, 1988).
            Yang menjadi pertanyaan bagi Marx adalah nasib para buruh. Saat kapitalis merajalela, pabrik-pabrik mulai bermunculan. Oleh karena itu, diperlukan buruh-buruh yang dapat dibayar murah dengan cara memberikan buruh pekerjaan yang tidak mengembangkan kemampuan mereka.
Mereka tidak bisa memenuhi kepuasan dalam hidup mereka sebagai buruh. Hal inilah yang menyebabkan Marx membuat teori alienasi. Marx mengatakan kondisi alineasi yang bersifat patologis adalah kondisi sosial tidak memperbolehkan manusia mewujudkan keinginannya melalui kerja. Menurut Marx, alienasi merupakan akibat dari kapitalisme industrial. Alineasi merupakan ciri dari kapitalisme karena adanya pembagian kerja meliputi pemisahan yang penting antara konsepsi dan keputusan kerja. Buruh biasanya hanya membawa konsep kerja yang dimiliki orang lain. Proses kerja para buruh dipisah-pisahkan atau di tingkat-tingkatkan, sehingga para pekerja hanya melakukan sedikit dari pembuatan satu barang produksi (Sandeson, 2000).
            Bisa disimpulkan bahwa alienasi adalah keterasingan manusia dari lingkungan sekitarnya maupun dengan lingkungannya sendiri. Manusia hanya menjadi objek dari suatu sistem ketenagakerjaan sehingga pekerjaan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kehidupan sosial mereka dengan keluarga maupun tetangga mereka berkurang karena waktu mereka lebih banyak habis untuk pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka (terutama bagi buruh) tidak dapat memenuhi hasrat mereka. Tidak pula dapat mengembangkan kemampuan individu tersebut.
            Alienasi merupakan kondisi dimana manusia terasingkan dari sifat sejati mereka sebagai manusia. Marx berargumen bahwa manusia saling terasingkan satu sama lain. Mereka terasingkan dari barang yang mereka buat, bahan pembuat dan ide, para buruh ini juga terasingkan dari masyarakat mereka. Akar dari masalah alienasi ini adalah hubungan sosial manusia telah terstruktur oleh sistem sosial yang dibentuk oleh “kesucian” (keagungan) kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi (dalam hal ini kapitalis). Dalam masyarakat kapitalis, seperti sistem kemanusiaan, manusia menjadi komoditas belaka, sistem  tenaga kerja  seperti merendahkan manusia, tenaga kerja, yang dengan mudah dapat dibeli dan dijual di pasar tenaga kerja. dalam sistem tersebut, efek alienasi dari kas perhubungan melampaui institusi ekonomi untuk membentuk sikap dan perilaku manusia dalam semua hubungan sosialnya. Walaupun alienasi terjadi pada setiap lapisan masyarakat kapitalis, namun jika mencapai puncaknya dapat melumphkan pembangunan.
            Dalam kapitalis modern, Harry Braverman berpendapat bahwa sejak akhir abad 19 minat pokok kapitalis adalah mendapatkan kekuasaan atas kekuatan kerja dan proses kerja. Hal ini dapat mengakibatkan adanya suatu kegiatan rutin, berulang-ulang, dan mengakibatkan buruh tidak memikirkan tugas-tugas lain mereka selain pekerjaan di pabrik. Buruh dibuat seperti makhluk otomatis sehingga kehilangan dasar kemanusiaan mereka. Dehumanisasi ini tidak hanya terjadi di kalangan buruh, namun juga di semua pekerjaan kantor.
            Contoh dari alineasi ini yang paling mudah dilihat kaum buruh perusahaan sepatu. Dari setiap bagian sepatu tersebut dibuat dari susunan yang berbeda dan dibuat berdassarkan bagian-bagiannya sebelum menjadi sepatu yang utuh. Para buruh tersebut terbagi menjadi subsistem pembuatan sepatu tersebut. Ada bagian pembuat badan sepatu, pembuatan sol, dan bagian perekat antara badan dengan solnya. Para buruh ini hanya mengerjakan satu bagian sepatu, namun tidak mengetahui hasil akhir dari sepatu tersebut. Hal ini tidak membuat suatu kepuasan tersendiri bagi buruh tersebut. Hal ini membuat para buruh dibayar murah. Burh juga tidak dapat berpartisipasi banyak di perusahaan melainkan hanya sebagai pembuat barang produksi di tempat yang sama.

Sumber:
Sanderson, Stephen K. 2000.  “Sosiologi Makro (Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial)”. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Cuff, E.C., dan Payne, G.C.F. 1984. “Prespectives in Sociology”. London: George Allen & Unwin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar