Kamis, 29 Agustus 2013

Hanabi #1

sedikit curhat mengenai fanfiction. sebenernya ini buka fanfiction pertama yang gue buat. tapi ini fanfiction gue yang (insyaAllah, akan) selesai dan doujin yang pertama kali di posting. gue agak ragu utk ngepos ff atau doujin ini. soalnya kepanjangan. tapi, setelah ngeliat banyak yang nge-post doujin diatas 8.000 kata, gue betah-betah aja bacanya (dan karena doujin mereka keren. ah, semoga gue bisa bikin cerita sekeren mereka). 
fanfict ini bakal di posting secara bersambung. dikhawatirkan kesulitan untuk scrolling. seperti yang biasa dilakukan para ff maker (gue lupa bahasa Jepangnya apa), karakter di cerita ini adalah sepenuhnnya milik Masashi Kishimoto-sensei. cerita disusun oleh saya sebagai author. terinspirasi dari banyak cerita. untuk pertamakalinya dalam posting blog, gue mohon komentar, kritik, dan sarannya. Terimakasih :D

*Prolog*
“Wah, lihat. Pertunjukan kembang apinya  sudah mulai. Lihatlah, kembang apinya sangat indah. Aku sangat menyukainya”, ucap gadis itu polos.

Saat itu usia kami masih lima tahun. Saat itu pula pertemuan pertama kami, hari yang tidak akan pernah aku lupakan karena hari itulah hari semua kisah ini dimulai. aku menemukannya sedang menangis di keramaian festival kembang api yang diadakan saat musim panas tiba. Tidak ada yang menyadari bahwa ada seorang anak kecil sedang menangis karena ukuran badannya yang kecil, atau karena tidak terdengar suara tangisan darinya. Aku yang akan memakan gulali yang baru saja kubeli tertahan karena anak tersebut menarik perhatianku. Langsung saja kutarik tangannya untuk menepi. Dia hanya menurut saat kutarik tangannya.
“Hei, kenapa kau menangis?”, tanyaku penasaran dan aku masih ingat seberapa polosnya diriku saat itu.
“Aku tersesat. Aku terpisah dari too-san dan kaa-san ku. Hiks…”, jawabnya sambil terisak. Air mata yang berceceran serta ingus yang meluber dari hidungnya membuat ekspresi gadis itu semakin menggemaskan. Saat itu aku berkhayal ‘andai aku mempunyai adik seperti dia, mungkin setiap hari pipinya akan memerah karena korban cubitanku’.
“Ini untukmu. Jangan menangis lagi ya. Kita akan bersama-sama mencari kaa-san dan too-san mu”, ajakku sambil memberikan gulali yang belum sempat kumakan. Padahal saat itu, aku juga sedang terpisah dari orang tuaku. Awalnya dia ragu-ragu untuk mengambilnya. Akupun meyakinkannya dengan cengiran khas ku.
“Terimakasih”, jawabnya tersedu-sedu sambil menyeka air matanya dan berusaha untuk tidak menangis.
Kami pun bersama-sama mencari orang gadis itu. Tanpa terasa, pertunjukkan kembang api sudah dimulai. Karena belum menemukan orang tua nya, aku mengajaknya untuk beristirahat di pinggir danau sambil menikmati pertunjukkan kembang api tersebut.
“Dari tadi kita belum kenalan ya. Kenalkan, namaku Uzumaki Naruto. Panggil saja Naruto”, aku mulai memperkenalkan diri.
“Aku, Hyuuga Hinata. Kau bisa memanggilku Hinata”, jawabnya dengan suara yang pelan. “Wah, kembang apinya bagus ya”, lanjutnya saat melihat kembang api bermekaran di langit. Ekspresi sedihnya tadi seketika berubah menjadi senang bahkan untuk sesaat, dia melupakan kalau dirinya sedang tersesat ketika melihat kembang api itu.
Sejak saat itu, Hinata menjadi maniak kembang api. Bahkan ia memaksa orang tuanya untuk memberikan nama ‘Hanabi’ pada adiknnya yang baru lahir. Pertemuan pertama itu juga yang membuat kami selalu satu sekolah hingga jenjang SMA. Dan pertemuan itulah yang tanpa sengaja membuat kami menjadi sahabat hingga saat ini.

“Aku menyukai kembang api. Walaupun sesaat, namun kembang api tersebut mampu menerangi pekatnya malam dengan warna-warni yang menghiasi langit. Membuat hati setiap orang yang melihatnya merasa damai”, ucap Hinata kepadaku saat masih duduk di bangku SMP.

Setiap tahun, kami tidak pernah melewatkan festival kembang api ini. Kami selalu berdua saat SD. Hingga ada gossip yang mengatakan bahwa kami pacaran. Padahal saat itu saja aku tidak tahu apa yang dinamakan pacaran tersebut. Bahkan hingga bangku SMP saat itu, kami selalu belajar bersama. Hinata selalu menjadi bintang sekolah baik saat SD maupun SMP. Aku bisa masuk ke SMP ternama di kota tersebut karena aku selalu belajar bersama dengannya. Hinata mempunyai satu kelemahan yaitu ia cepat menyerah atas apa yang ia coba.  Dan salah satu tugasku adalah untuk membangkitkan semangatnya tersebut karena jika tidak, ia tidak akan menyelesaikan tugas-tugasnya tersebut dan bisa-bisa tidak ada yang mengajari aku untuk menyelesaikan tugasku sendiri.
Semaki hari, perasaaku pada Hinata semakin berkembang. Aku menganggap Hinata bukan hanya sekedar sahabat. Sikapnya yang pemalu serta kekanak-kanakan, perhatiannya yang selalu tercurahkan pada semua orang, kepandaiannya, membuat Hinata semakin terlihat begitu sempurna di hadapanku. Ingin rasa hati mengungkapkan perasaan ini padanya yang selama ini terpendam. Namun, aku takut. Aku takut hal ini dapat merusak hubungan persahabatanku dengannya. Lagi pula, aku merasa tidak pantas untuk disandingkan dengan marga Hyuuga yang satu ini. Bagiku, dia terlalu sempurna. Baik dalam segi akademis maupun non akademis serta atitut yang dia tunjukkan pada semua orang. Berbeda denganku yang bahkan tidak pernah masuk 20 besar di kelas. Lebih baik aku menyimpan perasaan ini saja.

“Aku menyukai kembang api. Keindahan warnanya ditengah pekatnya malam mewarnai setiap hati yang sunyi. Membangkitkan kenangan masa lalumu. Keinginanku sekarang adalah ada seseorang yang menyatakan perasaan cintanya padaku dengan kilauan hanabi sebagai saksinya”, ucap gadis berambut indigo itu. Saat ia mengatakannya,  kami sudah duduk di bangku kelas satu SMA.

Dengan selesainya kalimat yang diucapkan Hinata, berakhir pulalah pertunjukkan kembang api itu. Aku terlambat mendapatkan momen yang hanya ada satu tahun sekali itu. Dari pada menyesali diri sendiri karena membatalkan niat untuk menembaknya, akupun memancing pembicaraan.
“Seorang bintang sekolah Konoha tidak pernah pacaran? Kurasa bukan tidak ada anak lelaki yang menyukaimu, kalu itu jangan ditanya. Mungkin seisi Konoha High School sedang mengantri menembakmu. Namun karena sifatmu yang introvert serta hanya bergaul dengan buku atau aku saja”, ucapku santai. Ia hanya menanggapinya dengan dengusan pelan. Aku tahu, Hinata memang kesulitan dalam menjalin pergaulan dengan teman-teman di sekolah. Ia hannya merasa nyaman hanya dengan orang terdekatnya saja. Hei, sebentar. Apakah ini sebuah kode?
“Aku lihat seorang anak laki-laki dari kelas dua memberimu sebuah bungkusan. Apa dia menembakmu, Hinata?”, tanyaku tanpa berpikir apa akibatnya terlebih dahulu.
“Iya”, jawabnya datar “dan aku menolaknya. Jika dilihat sekilas, ia setipe denganmu”, lanjutnya. Syukurlah, aku senang ia tidak menerimanya. Tapi, hei, apa Hinata menolaknya karena anak itu setipe denganku? Seketika ekspektasi tentang perasaannya kepadaku hacur.
“Lalu bagaiman dengan tipe cowok idealmu? Sepertinya kau tidak pernah cerita pernah menyukai seseorang”, aku ingin tahu lebih dalam tentang itu. Sebersit pikiranku mengatakan bahwa jangan-jangan dia adalah ‘yuri’.
“Jangan berpikir kalau aku tidak normal ya, Naruto!”, ia menjawab seperti mengetahui tentang apa yang aku pikirkan barusan. “hufft, tipe cowok, tidak ada yang spesifik. Aku juga bingung jika ada yang bertanya tentang itu”, jawabnya polos. Bahkan ke sahabatnya sendiripun, ia masih tertutup jika ditanya tentang masalah hati. 
to be continued...

Minggu, 18 Agustus 2013

Media Api (Mediafire)

  • A: notulensinya nanti di share terus link nya posting di twitter ya
  • B: siap kak ^0^
  • (Beberapa saat kemudian)
  • A: udah?
  • B: belum kak. pake google docs cuma bisa di buka pake akun sendiri (yang mem-publish). ga bisa dibuka orang lain ><
  • C: pake mediafire aja kak (memberi saran). nanti orang lain juga bisa download
  • A: yaudah, coba aja
  • B: jangan... nanti filenya kebakar. kan api. bruuuw (menirukan suara perapihan)
  • C: -_-'" (seketika nelen laptop)