Hari – hariku berjalan seperti biasa.
Angin yang biasa, matahari yang biasa, rumput yang biasa, serta bunga yang
biasa. Namun, ada satu hal yang tidak biasa bagi diriku. Dirinya. Ya,
dirinyalah yang menurutku paling special hari ini. Dia terlihat sangat cantik
dimataku. Saat aku mengenalnya, duniaku
serasa lebih berwarna dibanding hari – hari kemarin.
Hari ini, kami bertemu tanpa sengaja
diantara rerumputan dan bunga - bunga yang sedang bermekaran. Dia terlihat
sangat cantik ketika sedang menghirup bunga berwarna violet tersebut. Hei,
sudah berapa kali aku menyebutnya cantik? Menari dengan indahnya bersama angin
yang membelai wajahnya. Berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya.
Kuberanikan diri untuk mendekatinya. Tidak
sadar, dari mulutku sudah mengeluarkan suara memanggil namanya. Suaraku tidak
besar, namun cukup mengambil alih perhatiannya dari bunga – bunga tersebut. Ia
terkejut, tersipu ketika mengetahui ada orang lain selain dirinya. Wajahnya
mulai merona. Menambah kesan manis pada ekspresi wajahnya.
Kami mengobrol, bercanda bersama,
suasana menjadi cair karena sifatnya yang supel dan terbuka. Awalnya aku
canggung mengobrol dengannya karena sudah ketahuan mengintipnya tadi, namun ia
menganggap hal memalukan yang aku lakukan tadi tidak pernah terjadi. Berlari
kesana – kemari, terlihat seperti anak kecil menikmati hidup. Bahagia, itulah
yang aku rasakan sekarang.
Tanpa terasa kami sudah bermain kejar –
kejaran cukup jauh dan tanpa terasa pula kami sudah berada di jalanan beraspal,
bukan di taman bunga tempat kami bertemu tadi. Seketika, hari – hariku berubah
menjadi monoton. Apa yang kulihat kini akan mengubah pandanganku pada dunia.
Mungkin untuk selamanya. Hari yang indah ini berakhir dengan sangat cepat.
Takdir seakan tidak mengizinkanku untuk hidup bahagia bersama dirinya.
Dirinya terkapar tak berdaya diatas
panasnya aspal jalanan setelah sebuah roda menghantam dirinya dengan sangat
cepat. Kejadian tersebut terjadi begitu saja, padahal semenit yang lalu kami
masih bermain kejar – kejaran. Dunia seakan berhenti berputar sekarang. Aku
hanya terpaku melihat sayap kuning indah miliknya terbang bersama angin,
membawa dirinya ke tempat yang tidak pernah kutahu. Ia pergi, tanpa mengucap
kata perpisahan apapun. Tahukah kau, bahwa kita baru berkenalan dan bercanda
ria selama enam puluh menit dan kau malah pergi meninggalkanku begitu saja?
Setidaknya, izinkanlah aku mengenalmu lebih lama lagi. Aku mohon, kembalilah. Walaupun
ku tahu kau sudah ada di tempat yang sangat jauh dariku. Apakah aku egois
memintamu kembali ke sampingku padahal ku tahu kau sudah bahagia di sisi-Nya?
***
Gadis itu hanya tercengang ketika
melihat seekor kupu – kupu bersayap kuning terkapar tidak berdaya setelah sebuah
sepeda motor menabrak kupu – lupu malang tersebut. Gadis itu tercengang,
padahal baru sedetik yang lalu kupu – kupu kuning malang tersebut sedang
terbang bersama dengan temannya. Arah matanya hanya melihat kemana arah insekta
malang tersebut tersapu angin hingga menghilang dari jarak pandangnya. Gadis
itu yakin, teman dari kupu – kupu yang mati terserempet sepeda motor tersebut
adalah calon pasangannya, karena gadis itu mengetahui bahwa bulan ini sedang
musim kawin bagi para kupu – kupu.
‘Sungguh, kisah cinta yang tragis,’
pikir gadis itu. Gadis itu juga memaknai bahwa kematian bisa datang kapan saja
bahkan di saat yang sangat bahagia sekalipun. Melalui hal kecil pun, gadis
tersebut mengambil makna dari kehidupan bahwa kematian dapat datang kapan saja,
di saat dan waktu yang sangat tidak terduga.