Kelas tersebut sunyi.
Suara goresan pensil menghiasi kelas tersebut. seorang guru duduk di depan
sambil memeriksa ujian dari kelas lain. Entah apa penyebabnya, guru tersebut
keluar dari ruang kelas yang sempit dan gerah untuk ukuran 42 siswa didalamnya.
Suasana hening
tersebut seketika berubah menjadi pasar yang dimana mereka bertransaksi dengan
berbisik-bisik. Suara hening yang tercipta ternyata hanyalah sampul yang
diciptakan oleh para murid kelas Delapan G yang sedang mengerjakan ulangan
harian matematika. Hanya beberapa saja yang wajahnya tidak teralihkan dari
kertas ujiannya sambil sesekali menghapuskan tulisan yang salah. Di ruang kelas
itulah aku berada. Suara berisik tersebut membuyarkan rumus yang samar-samar
tergambar di otak. Membolak-balik pikiran yang sedari tadi mecoba membedakan
rumus untuk jawaban a dan rumus untuk jawaban b. Dua soal yang berbeda namun
memiliki rumus yang hampir sejenis.
Sesekali suara
seseorang memanggil. Menanyakan soal yang sedari tadi membingungkan diriku.
Hanya tidak tahu-lah yang keluar dari mulutku. Bagaimana bisa menjawab, diriku
saja belum berhasil memecahkan soal tersebut. Kali ini aku lelah, menjadi
sumber jawaban untuk kelas tersebut (walaupun hanya beberapa yang bertanya).
Bagiku, mensontek adalah suatu yang terlarang. Orangtuaku sudah menanamkan hal
ini sejak aku kelas satu SD. Walaupun aku selalu menjadi korban sumber jawaban
di kelas sejak kelas tujuh, tapi ku usahakan untuk tidak bertanya jawaban pada
orang lain. Aku hanya bergantung pada jawaban yang ku hasilkan.