Selasa, 02 Juli 2013

Sepenggal Kisah 19 April 2008

Kelas tersebut sunyi. Suara goresan pensil menghiasi kelas tersebut. seorang guru duduk di depan sambil memeriksa ujian dari kelas lain. Entah apa penyebabnya, guru tersebut keluar dari ruang kelas yang sempit dan gerah untuk ukuran 42 siswa didalamnya.
Suasana hening tersebut seketika berubah menjadi pasar yang dimana mereka bertransaksi dengan berbisik-bisik. Suara hening yang tercipta ternyata hanyalah sampul yang diciptakan oleh para murid kelas Delapan G yang sedang mengerjakan ulangan harian matematika. Hanya beberapa saja yang wajahnya tidak teralihkan dari kertas ujiannya sambil sesekali menghapuskan tulisan yang salah. Di ruang kelas itulah aku berada. Suara berisik tersebut membuyarkan rumus yang samar-samar tergambar di otak. Membolak-balik pikiran yang sedari tadi mecoba membedakan rumus untuk jawaban a dan rumus untuk jawaban b. Dua soal yang berbeda namun memiliki rumus yang hampir sejenis.
Sesekali suara seseorang memanggil. Menanyakan soal yang sedari tadi membingungkan diriku. Hanya tidak tahu-lah yang keluar dari mulutku. Bagaimana bisa menjawab, diriku saja belum berhasil memecahkan soal tersebut. Kali ini aku lelah, menjadi sumber jawaban untuk kelas tersebut (walaupun hanya beberapa yang bertanya). Bagiku, mensontek adalah suatu yang terlarang. Orangtuaku sudah menanamkan hal ini sejak aku kelas satu SD. Walaupun aku selalu menjadi korban sumber jawaban di kelas sejak kelas tujuh, tapi ku usahakan untuk tidak bertanya jawaban pada orang lain. Aku hanya bergantung pada jawaban yang ku hasilkan.

Tapi kali ini, ada bisikan yang tercipta dari kebingunganku akan satu soal dengan tiga buah anak ini. Soal c dapat aku kerjakan, namun untuk mengerjakan soal a dan b, aku tersandung pada rumus yang mirip tersebut. Rumus tersebutpun semakin buyar dengan keadaan kelas yang tidak kondusif hingga aku benar-benar tidak tahu rumus mana yang harus digunakan.
Akupun memberanikan diri untuk bertanya pada seseorang yang menjadi rivalku selama kelas delapan ini. Sebut saja namanya Dhimas (ya, sebut saja). Dia peringkat dua dikelas setelah diriku. Selain itu, isu yang diriku dengar mengenai dirinya yang dengan mudahnya melihat catatan ketika ujian menggelitik diriku untuk menanyakan soal ujian tersebut padanya.
“Dhim, soal 1a rumusnya apa?” tanyaku spontan sambil membalikkan badanku. Ya, dia duduk dua kursi dibelakang kursiku.
“Itu rumusnya bla…bla…bla… ditambah bla…bla…”, jawabnya yakin. Aku mengolah lagi rumus tersebut. Remah-remah rumus yang sedari tadi menghilang muncul kembali sebagai rumus utuh. Namun, rumus yang dia berikan adalah rumus untuk mengerjakan soal nomor 1b. Untuk meyakinkan diriku, aku menanyakan kembali padanya soal nomor 1b.
“Dhim, kalau soal nomor 1b?”, tanyaku kembali.
“Itu rumusnya bla…bla…bla… ditambah bla… ditambah bla…”, jawabnya lagi. Dari rumus yang diberikan dia, aku semakin yakin, dia terbalik memberikan rumus. Rumus 1a yang dia berikan seharusnya untuk soal 1b dan rumus 1b yang dia berikan seharusnya jawaban untuk rumus 1a. Sudah cukup jelas, aku akan menuliskannya berbeda dari apa yang dia berikan.
“Sip, makasi ya Dhim”, sedikit ucapan terimakasih atas bantuan yang dia berikan. Aku menulis jawaban yang berbeda dari yang dia berikan. Ingin rasanya memberi tahu saat itu kalau rumus yang dia berikan terbalik, sayangnya ini bukan saat untuk menyanggah karena ini sedang ulangan harian. Akupun hanya mendiskusikan ini dengan teman sebangkuku yang ternyata lebih mempercayai rumus yang diberikan oleh Dhimas. (Setelah diingat kembali, guru matematika tersebut secara full tidak mengawasi jalannya ulangan harian tersebut).
Hanya berselang seminggu sejak ulangan harian itu, kertas jawabanpun sudah diberikan oleh guru matematika tersebut. Bukan hanya itu, remedial juga dilaksanakan saat itu juga hanya dengan diberikan waktu 10 menit untuk belajar. Bagi yang nilainya mencapai standar, ia harapkan untuk menunggu diluar sampai remedial selesai. Hanya ada beberapa orang yang lulus saat itu, termasuk aku walaupun hanya dengan nilai yang pas-pasan (setelah dilihat, jawaban ku banyak yang salah hitung).
Bukan perasaan lega yang ku dapatkan karena tidak harus mengikuti remedial mendadak ini, tapi perasaan tidak enak yang menyelimuti. Ternyata, Dhimas dan teman sebangkuku harus mengikuti remedial tersebut. Apa yang selama ini teman-temanku bilang tentang dia salah. Aku tidak tahu bagaimana tindakkanku padanya. Haruskah aku mengucapkan terimakasih, ataukah aku harus mengucap maaf. Su’udzon yang muncul saat itu mendorongku untuk melakukan hal itu.
Aku semakin tidak enak hati padanya karena saat itu, seorang guru memanggilku untuk izin dari kelas tersebut (aku lupa kelas apa). Guru tersebut memanggilku untuk persiapan olimpiade sains tingkat kabupaten. Sekilas aku melihat tatapan dia, aku melihat ada rasa kesal padanya kenapa bukan dia yang diikutkan lomba tersebut. Ingin rasanya mengajukan namanya untuk mengikuti lomba ini,  karena yang mengikuti astronomi sedikit. Tapi sayang, saat itu tidak didengar oleh guru tersebut. Hal yang membuatku menggerutu lagi adalah aku ditempatkan pada bidang yang bukan keinginanku. Saat itu aku ingin sekali mengikuti lomba bidang Biologi, sayang aku ditempatkan di bidang Astronomi yang notabenenya berhubungan dengan Fisika. (Saat itu, yang diikutkan pada lomba ini adalah aku ditempatkan pada bidang yang bukan keinginanku. Saat itu aku ingin sekali mengikuti lomba bidang Biologi, sayang aku ditempatkan di bidang Astronomi yang notabenenya berhubungan dengan Fisika. (Saat itu, yang diikutkan pada lomba ini adalah yang meraih juara umum 1-5 baik kelas tujuh, maupun kelas delapan).
Aku masih mengingat masa ulangan harian matematika tersebut (padahal sudah berkali-kali ulangan harian matematika terlewati dan semua berjalan normal). Rasa bersalah masih ada dan aku belum sempat berterimakasih atau mengucap maaf padanya.
Seketika muncul ide yang lumayan frontal. Bagiku, butuh keberanian lebih untuk melakukannya atau tidak ada satupun yang melihat aku melakukannya. Aku akan memberikan hadiah ulang tahun untuknya dengan cara meletakan kado tersebut di kolong mejanya. Memberikan kado tersebut dengan kedok anonym agar ia tidak curiga.
Aku melancarkan aksiku tersebut dengan serius. Sepulang pelatihan, aku menyempatkan diri untuk mampir ke toko souvenir yang terletak di perumahan yang ada di depan sekolahku. Bisa dibilang tidak jauh jika menggunakan sepeda motor dan lumayan jauh jika berjalan kaki (aslinya sih karena ga ada ongkos untuk bayar ojek). Sesampainya di tempat souvenir tersebut, aku langsung membeli gantungan hp dengan boneka Sasuke kecil di ujungnya (padahal saat itu aku aku tidak mempunyai hp). Aku memilihnya karena saat itu aku terlalu addict terhadap Naruto. Untuk kertas kado, aku menggunakan kertas kopi berwarna coklat agar tidak terlihat jika yang memberikannya adalah perempuan (dan agar lebih murah).
19 April 2008, adalah ulang tahunnya yang ke 14. Saat itu pula olimpiade sains tingkat kabupaten diadakan. Aku berusaha datang sepagi mungkin yang perkiraanku belum banyak orang yang datang ke kelas. Dengan seragam yang berbeda dari yang lain (hari itu hari Sabtu, aku menggunakan batik. Seharusnya seragam Pramuka), dengan pede aku memasuki ruang kelas delapan G. Sayang, kelas sudah lumayan ramai. Padahal ini momen yang tepat untuk memberikan hadiah tersebut. Saat aku tidak berada dikelas, sehingga ia tidak mencurigai bahwa akulah yang memberikan hadiah tersebut. aku hanya bisa mondar-mandir keluar masuk kelas. Hal ini adalah kebiasaanku jika sedang bingung.
Ekspektasiku melenceng jauh. Rundown yang telah kubuat gagal ku laksanakan. Mental block menghalangiku untuk memberikan hadiah tersebut. Aku takut jika aku ketahuan yang melakukannya. Aku bisa jadi bulan-bulanan oleh anak-anak kelas delapan G. Padahal saat itu, Dhimas belum tiba di kelas. Misi kali ini gagal. Perasaanku berubah menjadi tidak jelas. Kado itu pun hanya tersimpan di tas ranselku. Tidak pernah kuberikan padanya hingga kado tersebut dibuka oleh adikku dan gantungan hp tersebut dimainkan olehnya hingga tidak diketahui lagi dimana keberadaannya (oh, uang lima ribu kuuu).
Hingga saat ini (semester 2 di perguruan tinggi) aku belum bisa berterimakasih ataupun meminta maaf padanya. Aku tidak pernah menemukan akun Facebook-nya. Hingga aku tahu dia memang tidak memiliki FB. Selulusnya dari SMP, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya selama tiga tahun. Baru di bulan Juni 2012 lalu aku bertemu dengannya. Dia juga mengantarkan adiknya untuk mendaftar ulang di SMP yang sama. Aku sempat tidak mengenalinya dan setelah dilihat lebih teliti lagi, aku baru mengenalinya.

Kesempatan itu pula tidak dapat aku mengucapkan terimakasih ataupun maaf tersebut. Pembicaraan kami hanya mengenai SNMPTN yang baru diumumkan kemarin. Dia diterima di UNTIRTA, tapi aku tidak berpikiran menanyakan di jurusan apa dia berada. Saat dia menanyakan sudah diterima dimana aku, aku menjawab belum dimana-mana dan bersiap untuk mengikuti SIMAK seminggu kemudian. Pembicaraan kami hanya sebatas itu. Diapun beranjak karena ada urusan lain dan aku hanya bisa melihatnya berjalan menjauh. Berharap ada tombol reply untuk mengembalikan beberapa menit sebelumnya. Untuk sedikit menceritakan flashback mengenai ulangan harian matematika yang mungkin dia sudah lupa mengenai kejadian hari itu. Aku hanya berharap bisa bertemu dengannya lagi suatu saat di suatu tempat. Dan hingga saat ini hanya bisa berharap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar