Kelas tersebut sunyi.
Suara goresan pensil menghiasi kelas tersebut. seorang guru duduk di depan
sambil memeriksa ujian dari kelas lain. Entah apa penyebabnya, guru tersebut
keluar dari ruang kelas yang sempit dan gerah untuk ukuran 42 siswa didalamnya.
Suasana hening
tersebut seketika berubah menjadi pasar yang dimana mereka bertransaksi dengan
berbisik-bisik. Suara hening yang tercipta ternyata hanyalah sampul yang
diciptakan oleh para murid kelas Delapan G yang sedang mengerjakan ulangan
harian matematika. Hanya beberapa saja yang wajahnya tidak teralihkan dari
kertas ujiannya sambil sesekali menghapuskan tulisan yang salah. Di ruang kelas
itulah aku berada. Suara berisik tersebut membuyarkan rumus yang samar-samar
tergambar di otak. Membolak-balik pikiran yang sedari tadi mecoba membedakan
rumus untuk jawaban a dan rumus untuk jawaban b. Dua soal yang berbeda namun
memiliki rumus yang hampir sejenis.
Sesekali suara
seseorang memanggil. Menanyakan soal yang sedari tadi membingungkan diriku.
Hanya tidak tahu-lah yang keluar dari mulutku. Bagaimana bisa menjawab, diriku
saja belum berhasil memecahkan soal tersebut. Kali ini aku lelah, menjadi
sumber jawaban untuk kelas tersebut (walaupun hanya beberapa yang bertanya).
Bagiku, mensontek adalah suatu yang terlarang. Orangtuaku sudah menanamkan hal
ini sejak aku kelas satu SD. Walaupun aku selalu menjadi korban sumber jawaban
di kelas sejak kelas tujuh, tapi ku usahakan untuk tidak bertanya jawaban pada
orang lain. Aku hanya bergantung pada jawaban yang ku hasilkan.
Tapi kali ini, ada
bisikan yang tercipta dari kebingunganku akan satu soal dengan tiga buah anak
ini. Soal c dapat aku kerjakan, namun untuk mengerjakan soal a dan b, aku
tersandung pada rumus yang mirip tersebut. Rumus tersebutpun semakin buyar dengan
keadaan kelas yang tidak kondusif hingga aku benar-benar tidak tahu rumus mana
yang harus digunakan.
Akupun memberanikan
diri untuk bertanya pada seseorang yang menjadi rivalku selama kelas delapan
ini. Sebut saja namanya Dhimas (ya, sebut saja). Dia peringkat dua dikelas
setelah diriku. Selain itu, isu yang diriku dengar mengenai dirinya yang dengan
mudahnya melihat catatan ketika ujian menggelitik diriku untuk menanyakan soal
ujian tersebut padanya.
“Dhim, soal 1a
rumusnya apa?” tanyaku spontan sambil membalikkan badanku. Ya, dia duduk dua
kursi dibelakang kursiku.
“Itu rumusnya
bla…bla…bla… ditambah bla…bla…”, jawabnya yakin. Aku mengolah lagi rumus
tersebut. Remah-remah rumus yang sedari tadi menghilang muncul kembali sebagai
rumus utuh. Namun, rumus yang dia berikan adalah rumus untuk mengerjakan soal
nomor 1b. Untuk meyakinkan diriku, aku menanyakan kembali padanya soal nomor
1b.
“Dhim, kalau soal
nomor 1b?”, tanyaku kembali.
“Itu rumusnya
bla…bla…bla… ditambah bla… ditambah bla…”, jawabnya lagi. Dari rumus yang
diberikan dia, aku semakin yakin, dia terbalik memberikan rumus. Rumus 1a yang
dia berikan seharusnya untuk soal 1b dan rumus 1b yang dia berikan seharusnya
jawaban untuk rumus 1a. Sudah cukup jelas, aku akan menuliskannya berbeda dari
apa yang dia berikan.
“Sip, makasi ya Dhim”,
sedikit ucapan terimakasih atas bantuan yang dia berikan. Aku menulis jawaban
yang berbeda dari yang dia berikan. Ingin rasanya memberi tahu saat itu kalau
rumus yang dia berikan terbalik, sayangnya ini bukan saat untuk menyanggah
karena ini sedang ulangan harian. Akupun hanya mendiskusikan ini dengan teman
sebangkuku yang ternyata lebih mempercayai rumus yang diberikan oleh Dhimas.
(Setelah diingat kembali, guru matematika tersebut secara full tidak mengawasi
jalannya ulangan harian tersebut).
Hanya berselang
seminggu sejak ulangan harian itu, kertas jawabanpun sudah diberikan oleh guru
matematika tersebut. Bukan hanya itu, remedial juga dilaksanakan saat itu juga
hanya dengan diberikan waktu 10 menit untuk belajar. Bagi yang nilainya
mencapai standar, ia harapkan untuk menunggu diluar sampai remedial selesai. Hanya
ada beberapa orang yang lulus saat itu, termasuk aku walaupun hanya dengan
nilai yang pas-pasan (setelah dilihat, jawaban ku banyak yang salah hitung).
Bukan perasaan lega
yang ku dapatkan karena tidak harus mengikuti remedial mendadak ini, tapi
perasaan tidak enak yang menyelimuti. Ternyata, Dhimas dan teman sebangkuku
harus mengikuti remedial tersebut. Apa yang selama ini teman-temanku bilang
tentang dia salah. Aku tidak tahu bagaimana tindakkanku padanya. Haruskah aku
mengucapkan terimakasih, ataukah aku harus mengucap maaf. Su’udzon yang muncul
saat itu mendorongku untuk melakukan hal itu.
Aku semakin tidak enak
hati padanya karena saat itu, seorang guru memanggilku untuk izin dari kelas
tersebut (aku lupa kelas apa). Guru tersebut memanggilku untuk persiapan
olimpiade sains tingkat kabupaten. Sekilas aku melihat tatapan dia, aku melihat
ada rasa kesal padanya kenapa bukan dia yang diikutkan lomba tersebut. Ingin
rasanya mengajukan namanya untuk mengikuti lomba ini, karena yang mengikuti astronomi sedikit. Tapi
sayang, saat itu tidak didengar oleh guru tersebut. Hal yang membuatku
menggerutu lagi adalah aku ditempatkan pada bidang yang bukan keinginanku. Saat
itu aku ingin sekali mengikuti lomba bidang Biologi, sayang aku ditempatkan di
bidang Astronomi yang notabenenya berhubungan dengan Fisika. (Saat itu, yang
diikutkan pada lomba ini adalah aku ditempatkan pada bidang yang bukan
keinginanku. Saat itu aku ingin sekali mengikuti lomba bidang Biologi, sayang
aku ditempatkan di bidang Astronomi yang notabenenya berhubungan dengan Fisika.
(Saat itu, yang diikutkan pada lomba ini adalah yang meraih juara umum 1-5 baik
kelas tujuh, maupun kelas delapan).
Aku masih mengingat
masa ulangan harian matematika tersebut (padahal sudah berkali-kali ulangan
harian matematika terlewati dan semua berjalan normal). Rasa bersalah masih ada
dan aku belum sempat berterimakasih atau mengucap maaf padanya.
Seketika muncul ide
yang lumayan frontal. Bagiku, butuh keberanian lebih untuk melakukannya atau
tidak ada satupun yang melihat aku melakukannya. Aku akan memberikan hadiah
ulang tahun untuknya dengan cara meletakan kado tersebut di kolong mejanya. Memberikan
kado tersebut dengan kedok anonym agar ia tidak curiga.
Aku melancarkan aksiku
tersebut dengan serius. Sepulang pelatihan, aku menyempatkan diri untuk mampir
ke toko souvenir yang terletak di perumahan yang ada di depan sekolahku. Bisa dibilang
tidak jauh jika menggunakan sepeda motor dan lumayan jauh jika berjalan kaki
(aslinya sih karena ga ada ongkos untuk bayar ojek). Sesampainya di tempat
souvenir tersebut, aku langsung membeli gantungan hp dengan boneka Sasuke kecil
di ujungnya (padahal saat itu aku aku tidak mempunyai hp). Aku memilihnya
karena saat itu aku terlalu addict terhadap Naruto. Untuk kertas kado, aku
menggunakan kertas kopi berwarna coklat agar tidak terlihat jika yang
memberikannya adalah perempuan (dan agar lebih murah).
19 April 2008, adalah
ulang tahunnya yang ke 14. Saat itu pula olimpiade sains tingkat kabupaten
diadakan. Aku berusaha datang sepagi mungkin yang perkiraanku belum banyak
orang yang datang ke kelas. Dengan seragam yang berbeda dari yang lain (hari
itu hari Sabtu, aku menggunakan batik. Seharusnya seragam Pramuka), dengan pede
aku memasuki ruang kelas delapan G. Sayang, kelas sudah lumayan ramai. Padahal ini
momen yang tepat untuk memberikan hadiah tersebut. Saat aku tidak berada
dikelas, sehingga ia tidak mencurigai bahwa akulah yang memberikan hadiah
tersebut. aku hanya bisa mondar-mandir keluar masuk kelas. Hal ini adalah
kebiasaanku jika sedang bingung.
Ekspektasiku melenceng
jauh. Rundown yang telah kubuat gagal ku laksanakan. Mental block menghalangiku
untuk memberikan hadiah tersebut. Aku takut jika aku ketahuan yang
melakukannya. Aku bisa jadi bulan-bulanan oleh anak-anak kelas delapan G.
Padahal saat itu, Dhimas belum tiba di kelas. Misi kali ini gagal. Perasaanku
berubah menjadi tidak jelas. Kado itu pun hanya tersimpan di tas ranselku. Tidak
pernah kuberikan padanya hingga kado tersebut dibuka oleh adikku dan gantungan
hp tersebut dimainkan olehnya hingga tidak diketahui lagi dimana keberadaannya
(oh, uang lima ribu kuuu).
Hingga saat ini
(semester 2 di perguruan tinggi) aku belum bisa berterimakasih ataupun meminta
maaf padanya. Aku tidak pernah menemukan akun Facebook-nya. Hingga aku tahu dia memang tidak memiliki FB. Selulusnya
dari SMP, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya selama tiga tahun. Baru di
bulan Juni 2012 lalu aku bertemu dengannya. Dia juga mengantarkan adiknya untuk
mendaftar ulang di SMP yang sama. Aku sempat tidak mengenalinya dan setelah
dilihat lebih teliti lagi, aku baru mengenalinya.
Kesempatan itu pula
tidak dapat aku mengucapkan terimakasih ataupun maaf tersebut. Pembicaraan kami
hanya mengenai SNMPTN yang baru diumumkan kemarin. Dia diterima di UNTIRTA,
tapi aku tidak berpikiran menanyakan di jurusan apa dia berada. Saat dia
menanyakan sudah diterima dimana aku, aku menjawab belum dimana-mana dan
bersiap untuk mengikuti SIMAK seminggu kemudian. Pembicaraan kami hanya sebatas
itu. Diapun beranjak karena ada urusan lain dan aku hanya bisa melihatnya
berjalan menjauh. Berharap ada tombol reply untuk mengembalikan beberapa menit
sebelumnya. Untuk sedikit menceritakan flashback mengenai ulangan harian
matematika yang mungkin dia sudah lupa mengenai kejadian hari itu. Aku hanya
berharap bisa bertemu dengannya lagi suatu saat di suatu tempat. Dan hingga
saat ini hanya bisa berharap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar