Masalah sosial menurut Gillin dan Gillin
adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan yang membahayakan
kelompok sosial atau mengahambat menghambat terpenuhinya keinginan pokok warga
kelompok sosial tersebut. Sehingga rusaknya suatu ikatan sosial. Ketidaksesuaian
ini muncul karena tidak adanya integrasi yang harmonis dalam suatu unsur
kehidupan masyarakat tersebut. Masalah sosial merupakan persoalan yang yang
menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat
merusak.
Menurut Soerjono Soekamto, masalah
sosial ini timbul karena adanya kekurangan dalam diri manusia atau kelompok
manusia yang bersumber pada faktor ekonomis, biologis, biopsikologis, dan
kebudayaaan.
Menurut Horton dan Leslie, Masalah
Sosial yaitu situasi sosial yang tidak diinginkan oleh sejumlah orang karena
dikhawatirkan akan mengganggu sistem sosial dan perilaku orang-orang yang
terlibat di dalamnya adalah perilaku yang menyimpang dari nilai atau
norma-norma (Horton dan Leslie, 1984).
Sedangkan menurut Blumer
(1971) dan Thompson (1988), yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu
kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh
yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada sebagian
besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui
kegiatan bersama.
Jadi, masalah sosial adalah suatu
keadaan dimana individu atau kelompok tidak dapat memenuhi apa yang menjadi
kebutuhan pokoknya. Baik dari segi ekonomi, sosial, biopsikologi, dam
kebudayaan. Masalah sosial juga dapat terjadi karena tidak terpenuhinya
kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat tersebut.
Masalah sosial yang menjadi masalah
klasik di Indonesia adalah kemiskinan. Tidak bisa dipungkiri, kemiskinan
merupakan sumber terbesar dari permasalahan sosial yang ada di Indonesia. Berawal
dari kemiskinan, individu tersebut kesulitan untuk mendapatkan akses-akses
public seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan lainnya. Hal ini
mengakibatkan rendahnya kualitas hidup orang-orang yang berada di garis
kemiskinan.
Ada beberapa contoh masalah sosial yang
diakibatkan oleh kemiskinan itu sendiri. Misalnya saja para pencopet yang
beroperasi di angkutan umum maupun kawasan ramai. Mereka melakukan pencopetan
tersebut karena adanya kebutuhan hidup mereka yang belum terpenuhi sehingga
membuat mereka memilih jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut.
Ada pula oknum-oknum preman yang menjadikan anak dibawah umur untuk melakukan
pencopetan tersebut.
Contoh lain adala gelandangan dan
pengemis yang sangat mudah ditemui di jalan raya. Para gelandangan tidak
memiliki penghasilan yang cukup untuk menempati sebuah rumah sebagai tempat
bernaung mereka. Banyaknya para perantau yang datang ke kota-kota besar
mengakibatkan semakin tingginya tingkat persaingan. Bagi yang tidak memiliki
keterampilan khusus, maka ia akan tersisih dan memilih untuk menggelandang.
Begitu pula dengan pengemis. Ketika mereka merasa tidak ada kemampuan khusus
yang mereka miliki serta tidak memerlukan modal serta mental meminta yang
tinggi, maka mereka memilih mengemis untuk menopang kehidupan mereka. Mental
pengemis ini yang membuat individu tersebut tidak mandiri dan hanya bergantung
pada uluran tangan orang lain.
Eksploitasi anak juga merupakan salah
satu contoh masalah sosial yang diakibatkan oleh keadaan miskin yang dialami
oleh keluarga tersebut. Berdalih untuk membantu orang tua, anak-anak ini
digunakan untuk mengamen, berjualan bahkan mengemis. Seperti yang kita tahu, anak-anak
memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, kasih sayang serta hak untuk
memperoleh waktu bermain. Anak-anak tidak seharusnya bekerja apalagi di jalanan
karena hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan psikis anak tersebut.
Pekerja Seks Komersial juga merupakan
salah satu dari dampak perilaku miskin tersebut. Mereka menganggap bahwa dengan
melakukan pelacuran dapat melepaskan mereka dari kemiskinan yang membelenggu
mereka. Bahkan, dapat ditemukan orang tua yang rela menjadikan anaknya seorang
PSK hanya untuk mendapatkan sejumlah uang.
Dari segi kesehatan, perilaku miskin ini
cenderung tidak memperhatikan kesehatan mereka. Pola hidup tidak bersih menjadi
kehidupan mereka. Misalnya saja mereka tinggal di bantaran sungai Ciliwung,
menggunakan air dari sungai tersebut untuk mandi dan memasak. Hal ini dapat
membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit.
Sebenarnya, sangat banyak masalah sosial
yang dapat ditimbulkan oleh kemiskinan tersebut. Jika kemiskinan tidak segera
ditangani, maka akan menimbulkan masalah-masalah sosial baru yang lebih
kompleks.
Sumber:
Soekamto, Soerjono.
1990. Sosiologi, Suatu Pengantar.
Jakarta; Rajawali Pers
Tangdilintin, Paulus. 2000. Masalah-masalah Sosial. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas
Terbuka
Materi Kuliah Pertama, Masalah-Masalah Kemiskinan,
FISIP UI, Kamis, 5 September 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar