Judul : Change!
Genre : Drama, Politik
Jumlah Episode :
10
Rating : 21.7 (Kanto)
Cast : Kimura Takuya, Fukatsu
Eri, Abe Hiroshi, etc
Setiap individu adalah pemimpin. Baik
untuk orang lain maupun dirinya sendiri sebagai individu. Membawa pengaruh
kepada apa yang dipimpinnya, membawa angin perubahan bagi lingkungannya. Ia
seperti kompas, menunjukkan suatu arah yang diyakini benar. Semua orang adalah
pemimpin, namun tidak semua orang berjiwa pemimpin. Memiliki kepekaan yang
lebih terhadap lingkungannya, berpikir kritis, mau belajar, menanungi rakyatnya
dengan adil dan tanpa pandang bulu dan pantang menyerah adalah sedikit dari
sifat seorang pemimpin.
Itulah
yang dilakukan oleh seorang Asakura Keita. Seorang guru SD kelas lima yang
kehidupannya berubah drastic menjadi seorang politisi, Suatu kejadian yang
tidak terduga membawanya pada dunia politik yang penuh dengan intrik dan
permainan. Dalam serial Change ini, Kimura Takuya yang berperan sebagai Asakura
Keita, memiliki kehidupan yang penuh kejutan. Setelah kematian ayahnya dalam
kecelakaan pesawat di Vietnam, ia diminta menggantikan ayahnya dalam pemilihan
anggota parlemen Distrik Fukuoka. Ia menolak, namun karena yang menjadi taruhan
adalah ibunya, maka ia bersedia menggantikan ayahnya dalam pemilihan tersebut,
dengan konsekuensi jika ia kalah, maka tidak ada lagi yang boleh memaksanya
masuk ke dunia politik.
Dengan
kampanye dalam keadaan polosnya yang tidak mengerti dunia politik, ia tampil
apa adanya. Tidak ada yang dilebih-lebihkan dalam kampanye tersebut. Ia hanya
mengkampanyekan mengenai dirinya, tidak ada janji yang dilebih-lebihkan. Terutama
ketika kasus penyuapan yang menjerat ayahnya, Daidou Trading, dipertanyakan
oleh salah satu audiensnya (yang pasti adalah salah satu dari tim sukses
lawannya). Dia menjawab dengan jujur kejadian 18 tahun lalu tersebut tanpa
adanya penolakan seperti apa yang diperintahkan oleh Miyama, tim suksesnya.
Bahkan dengan jujur, ia mengakui kesalahan ayahnya dan meminta maaf kepada
audiensnya atas pengkhianatan yang telah dilakukan oleh ayahnya. Hal inilah
yang menarik hati masyarakat yang mendengarkan penuturan hati Asakura Keita
tersebut. Dia berhasil memenangkan suara dalam pemilihan anggota Parlemen
Distrik Fukuoka.
Kehidupan
barunya dimulai ketika ia mulai menempati Hall of Parliament, tempat dimana
para parlemen menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Sebagai orang termuda
di parlement, ia sedikit canggung. Pemahamannya mengenai politik yang masih
minim membuatnya terlihat kikuk ketika diwawancarai oleh wartawan. Namun, ia
berusaha untuk belajar memahami politik, ekonomi, serta hal – hal yang
berhubungan dengan negaranya. Ia juga berusaha mendekatkan diri dan berbaur
dengan rakyat banyak. Hal inilah yang membuat popularitasnya semakin naik
(disamping karena umurnya yang masih muda) sehingaa mendapat julukan “Prince of
Parliament”.
Kanbayashi-sensei memanfaatkan hal ini. Kepopuleran
Keita sebagai “Prince of Parliament” membuat Keita sebagai alat untuk
meningkatkan kepopuleran Partai Seiyu. Sehingga, ketika Perdana Menteri
sebelumnya mengundurkan diri, Kanbayashi langsung mengajukan Keita menjadi
calon Perdana Menteri dari Partai Seiyu. Sama seperti sebelumnya, Keita menolak
hingga akhirnya dia kembali dibujuk oleh Miyama untuk menjadi Perdana Menteri
dengan tujuan untuk menjaga Negara nya, Jepang.
Dewi
fortuna kembali menghinggapi Keita. Dengan kata-katanya serta
kepopularitasasnnya, dia akhirnya terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang.
Melalui kampanye yang diadakan serta gaya orasinya yang merakyat, serta memihak
kepada rakyat membuat Keita menarik hati masyarakat Jepang.
Contoh
pemimpin seperti Keita adalah pemimpin yang sangat dicari pada abad ini. Dimana
pemimpin yang bekerja dengan detail serta tidak menerima tanda tangan tanpa
membaca berkasnya dahulu. Keita sungguh – sungguh menjalani kehidupannya
sebagai perdana menteri dengan cara memenuhi janjinya saat kampanye sebelumnya.
Ia akan melihat dengan mata (dari sudut pandang) rakyat, bekerja dengan tangan
yang sama dengan rakyat, dan mementingkan rakyat. Janji inilah yang dipegang
teguh olehnya dalam menjalankan misisnya sebagai perdana menteri.
Keita
juga banyak belajar. Sebagai perdana menteri, dia harus paham mengenai
pemerintahan, politik, hukum, sosial, ekonomi, dan hal-hal yang berhubungan
dengan hubungan luar negeri maupun dalam negeri. Sebagai perdana menteri pula,
ia rela melakukan kajian terhadap proposal kegiatan yang diajukan kepadanya.
Dia melihat dampak positif maupun negatif terhadap suatu kegiatan yang akan
dilaksanakan. Keita tidak ingin kebijakan yang dia setujui hanya menguntungkan pihak-pihak
yang terlibat, namun merugikan bagi rakyatnya. Bahkan ia rela tidak tidur untuk
mengkaji kebijakan yang akan dia setujui serta mempelajari dokumen-dokumen yang
berhubungan dengan masalah tersebut. Selain bekerja di dalam ruang Perdana
Menteri, ia juga turun langsung ke lapangan mengamati bagaimana kondisi daerah
yang sedang terjadi bencana.
Namun,
Kabinet Asakura harus dibubarkan karena terjadi chaos didalamnya. Cabinet yang sepenuhnya dibentuk oleh Kanbayashi
merupakan orang yang terlibat kasus Daidou Trading delapan belas tahun lalu.
Sehingga, Keita bertanggung jawab untuk kabinetnya dengan cara mengundurkan
diri sebagai Perdana Menteri.
Mungkin
kehidupan Keita lebih mirip seperti dongeng dunia politik dimana seseorang
dapat begitu mudahnya menjadi seorang Perdana Menteri dalam waktu singkat.
Banyak hal diluar logika dalam serial drama ini, sehingga menghilangkan kesan
nyata dalam ceritanya. Kesan Keita sebagai pemimpin yang sempurna seperti mimpi
pada siang bolong untuk masa ini, seperti sihir yang biasa di ceritakan dalam
dongeng anak - anak. Selain itu, kecepatan belajar Keita untuk mempelajari
semua masalah mengenai negaranya terkesan tidak masuk akal (walaupun mungkin
saja ada orang yang seperti itu). Kehidupan politik, walaupun banyak intrik
serta konspirasi, tidak mungkin akan menjadi semudah itu. Namun, dibalik
terlalu fiktifnya cerita Change ini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita
ambil melalui gaya kepemimpinan Asakura Keita tersebut.
Seperti
yang disebutkan pada awal paragraph, pemimpin adalah seseorang yang mau belajar
untuk memahami rakyatnya. Keita belajar dengan sungguh-sungguh dalam cerita
ini. Dia mempelajari apa saja yang berkaitan dengan kepemimpinannya. Keita
digambarkan sebagai pekerja keras serta orang yang giat belajar agar dapat
memimpin dan tidak diremehkan oleh orang – orang yang lebih senior dalam
politik. Keita juga memiliki idealism yang tinggi. Bahkan sampai dituduh
sebagai boneka Kanbayashi untuk keuntungan partai. Terbukti dari sikapnya dalam
menyetujui proposal yang diajukan oleh menteri – menteri dibawahnya, Keita
harus membaca dan memahami proposal tersebut. Jarang ada pemimpin yang mau
menghabiskan waktu tidurnya dengan belajar atau mengkaji proposal kegiatan.
Bahkan hal yang dilakukan Keita bisa dibilang menghabiskan waktu disela – sela
waktunya yang padat.
Selain
itu, dia rela turun ke lapangan untuk mengecek keadaan berdasarkan keluhan dari
warganya, padahal keluhan tersebut merupakan hal sepele menurut orang – orang
sekitarnya. Dia lebih memperhatikan
keluhan rakyatnya dibandingkan dengan keluhan tubuhnya sendiri. Untuk setiap
kegiatan yang membawa nama perdana menteri, ia pastikan ia akan hadir. Sikapnya
yang ramah serta hangat kepada rekan serta rakyatnya membuat Keita semakin
disegani oleh orang – orang sekitarnya. Setiap perkataan Keita selalu mendapat
persetujuan dan mendapatkan hati dari masing – masing lawan bicaranya. Dari hal
ini, kita bisa mempelajari bahwa pemimpin seharusnya lebih mementingkan
rakyatnya. Disela ketegasannya sebagai pemimpin, ia juga harus ramah dan hangat
pada setiap orang. Tidak mengabaikan suara rakyatnya walaupun yang
menyuarakannya adalah orang – orang kecil.
Pemimpin
adalah orang yang mampu membawa rakyatnya kedalam keadaan yang lebih baik.
Semoga, sebagai kita sebagai pemimpin, baik bagi diri sendiri maupun orang lain
dapat mempertahankan idealism yang kita miliki untuk meraih ke keadaan yang
lebih baik tanpa adanya pengaruh dari orang – orang yang hanya mengejar
kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar