Kamis, 05 Desember 2013

Review Serial Drama - Change!

Judul                           : Change!
Genre                          : Drama, Politik
Jumlah Episode           : 10
Rating                         : 21.7 (Kanto)
Cast                            : Kimura Takuya, Fukatsu Eri, Abe Hiroshi, etc


Setiap individu adalah pemimpin. Baik untuk orang lain maupun dirinya sendiri sebagai individu. Membawa pengaruh kepada apa yang dipimpinnya, membawa angin perubahan bagi lingkungannya. Ia seperti kompas, menunjukkan suatu arah yang diyakini benar. Semua orang adalah pemimpin, namun tidak semua orang berjiwa pemimpin. Memiliki kepekaan yang lebih terhadap lingkungannya, berpikir kritis, mau belajar, menanungi rakyatnya dengan adil dan tanpa pandang bulu dan pantang menyerah adalah sedikit dari sifat seorang pemimpin.
            Itulah yang dilakukan oleh seorang Asakura Keita. Seorang guru SD kelas lima yang kehidupannya berubah drastic menjadi seorang politisi, Suatu kejadian yang tidak terduga membawanya pada dunia politik yang penuh dengan intrik dan permainan. Dalam serial Change ini, Kimura Takuya yang berperan sebagai Asakura Keita, memiliki kehidupan yang penuh kejutan. Setelah kematian ayahnya dalam kecelakaan pesawat di Vietnam, ia diminta menggantikan ayahnya dalam pemilihan anggota parlemen Distrik Fukuoka. Ia menolak, namun karena yang menjadi taruhan adalah ibunya, maka ia bersedia menggantikan ayahnya dalam pemilihan tersebut, dengan konsekuensi jika ia kalah, maka tidak ada lagi yang boleh memaksanya masuk ke dunia politik.

            Dengan kampanye dalam keadaan polosnya yang tidak mengerti dunia politik, ia tampil apa adanya. Tidak ada yang dilebih-lebihkan dalam kampanye tersebut. Ia hanya mengkampanyekan mengenai dirinya, tidak ada janji yang dilebih-lebihkan. Terutama ketika kasus penyuapan yang menjerat ayahnya, Daidou Trading, dipertanyakan oleh salah satu audiensnya (yang pasti adalah salah satu dari tim sukses lawannya). Dia menjawab dengan jujur kejadian 18 tahun lalu tersebut tanpa adanya penolakan seperti apa yang diperintahkan oleh Miyama, tim suksesnya. Bahkan dengan jujur, ia mengakui kesalahan ayahnya dan meminta maaf kepada audiensnya atas pengkhianatan yang telah dilakukan oleh ayahnya. Hal inilah yang menarik hati masyarakat yang mendengarkan penuturan hati Asakura Keita tersebut. Dia berhasil memenangkan suara dalam pemilihan anggota Parlemen Distrik Fukuoka.
            Kehidupan barunya dimulai ketika ia mulai menempati Hall of Parliament, tempat dimana para parlemen menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Sebagai orang termuda di parlement, ia sedikit canggung. Pemahamannya mengenai politik yang masih minim membuatnya terlihat kikuk ketika diwawancarai oleh wartawan. Namun, ia berusaha untuk belajar memahami politik, ekonomi, serta hal – hal yang berhubungan dengan negaranya. Ia juga berusaha mendekatkan diri dan berbaur dengan rakyat banyak. Hal inilah yang membuat popularitasnya semakin naik (disamping karena umurnya yang masih muda) sehingaa mendapat julukan “Prince of Parliament”.
            Kanbayashi-sensei memanfaatkan hal ini. Kepopuleran Keita sebagai “Prince of Parliament” membuat Keita sebagai alat untuk meningkatkan kepopuleran Partai Seiyu. Sehingga, ketika Perdana Menteri sebelumnya mengundurkan diri, Kanbayashi langsung mengajukan Keita menjadi calon Perdana Menteri dari Partai Seiyu. Sama seperti sebelumnya, Keita menolak hingga akhirnya dia kembali dibujuk oleh Miyama untuk menjadi Perdana Menteri dengan tujuan untuk menjaga Negara nya, Jepang.
            Dewi fortuna kembali menghinggapi Keita. Dengan kata-katanya serta kepopularitasasnnya, dia akhirnya terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang. Melalui kampanye yang diadakan serta gaya orasinya yang merakyat, serta memihak kepada rakyat membuat Keita menarik hati masyarakat Jepang.
            Contoh pemimpin seperti Keita adalah pemimpin yang sangat dicari pada abad ini. Dimana pemimpin yang bekerja dengan detail serta tidak menerima tanda tangan tanpa membaca berkasnya dahulu. Keita sungguh – sungguh menjalani kehidupannya sebagai perdana menteri dengan cara memenuhi janjinya saat kampanye sebelumnya. Ia akan melihat dengan mata (dari sudut pandang) rakyat, bekerja dengan tangan yang sama dengan rakyat, dan mementingkan rakyat. Janji inilah yang dipegang teguh olehnya dalam menjalankan misisnya sebagai perdana menteri.
            Keita juga banyak belajar. Sebagai perdana menteri, dia harus paham mengenai pemerintahan, politik, hukum, sosial, ekonomi, dan hal-hal yang berhubungan dengan hubungan luar negeri maupun dalam negeri. Sebagai perdana menteri pula, ia rela melakukan kajian terhadap proposal kegiatan yang diajukan kepadanya. Dia melihat dampak positif maupun negatif terhadap suatu kegiatan yang akan dilaksanakan. Keita tidak ingin kebijakan yang dia setujui hanya menguntungkan pihak-pihak yang terlibat, namun merugikan bagi rakyatnya. Bahkan ia rela tidak tidur untuk mengkaji kebijakan yang akan dia setujui serta mempelajari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan masalah tersebut. Selain bekerja di dalam ruang Perdana Menteri, ia juga turun langsung ke lapangan mengamati bagaimana kondisi daerah yang sedang terjadi bencana.
            Namun, Kabinet Asakura harus dibubarkan karena terjadi chaos didalamnya. Cabinet yang sepenuhnya dibentuk oleh Kanbayashi merupakan orang yang terlibat kasus Daidou Trading delapan belas tahun lalu. Sehingga, Keita bertanggung jawab untuk kabinetnya dengan cara mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri.
            Mungkin kehidupan Keita lebih mirip seperti dongeng dunia politik dimana seseorang dapat begitu mudahnya menjadi seorang Perdana Menteri dalam waktu singkat. Banyak hal diluar logika dalam serial drama ini, sehingga menghilangkan kesan nyata dalam ceritanya. Kesan Keita sebagai pemimpin yang sempurna seperti mimpi pada siang bolong untuk masa ini, seperti sihir yang biasa di ceritakan dalam dongeng anak - anak. Selain itu, kecepatan belajar Keita untuk mempelajari semua masalah mengenai negaranya terkesan tidak masuk akal (walaupun mungkin saja ada orang yang seperti itu). Kehidupan politik, walaupun banyak intrik serta konspirasi, tidak mungkin akan menjadi semudah itu. Namun, dibalik terlalu fiktifnya cerita Change ini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil melalui gaya kepemimpinan Asakura Keita tersebut.
            Seperti yang disebutkan pada awal paragraph, pemimpin adalah seseorang yang mau belajar untuk memahami rakyatnya. Keita belajar dengan sungguh-sungguh dalam cerita ini. Dia mempelajari apa saja yang berkaitan dengan kepemimpinannya. Keita digambarkan sebagai pekerja keras serta orang yang giat belajar agar dapat memimpin dan tidak diremehkan oleh orang – orang yang lebih senior dalam politik. Keita juga memiliki idealism yang tinggi. Bahkan sampai dituduh sebagai boneka Kanbayashi untuk keuntungan partai. Terbukti dari sikapnya dalam menyetujui proposal yang diajukan oleh menteri – menteri dibawahnya, Keita harus membaca dan memahami proposal tersebut. Jarang ada pemimpin yang mau menghabiskan waktu tidurnya dengan belajar atau mengkaji proposal kegiatan. Bahkan hal yang dilakukan Keita bisa dibilang menghabiskan waktu disela – sela waktunya yang padat.
            Selain itu, dia rela turun ke lapangan untuk mengecek keadaan berdasarkan keluhan dari warganya, padahal keluhan tersebut merupakan hal sepele menurut orang – orang sekitarnya.  Dia lebih memperhatikan keluhan rakyatnya dibandingkan dengan keluhan tubuhnya sendiri. Untuk setiap kegiatan yang membawa nama perdana menteri, ia pastikan ia akan hadir. Sikapnya yang ramah serta hangat kepada rekan serta rakyatnya membuat Keita semakin disegani oleh orang – orang sekitarnya. Setiap perkataan Keita selalu mendapat persetujuan dan mendapatkan hati dari masing – masing lawan bicaranya. Dari hal ini, kita bisa mempelajari bahwa pemimpin seharusnya lebih mementingkan rakyatnya. Disela ketegasannya sebagai pemimpin, ia juga harus ramah dan hangat pada setiap orang. Tidak mengabaikan suara rakyatnya walaupun yang menyuarakannya adalah orang – orang kecil.

            Pemimpin adalah orang yang mampu membawa rakyatnya kedalam keadaan yang lebih baik. Semoga, sebagai kita sebagai pemimpin, baik bagi diri sendiri maupun orang lain dapat mempertahankan idealism yang kita miliki untuk meraih ke keadaan yang lebih baik tanpa adanya pengaruh dari orang – orang yang hanya mengejar kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar