- A: notulensinya nanti di share terus link nya posting di twitter ya
- B: siap kak ^0^
- (Beberapa saat kemudian)
- A: udah?
- B: belum kak. pake google docs cuma bisa di buka pake akun sendiri (yang mem-publish). ga bisa dibuka orang lain ><
- C: pake mediafire aja kak (memberi saran). nanti orang lain juga bisa download
- A: yaudah, coba aja
- B: jangan... nanti filenya kebakar. kan api. bruuuw (menirukan suara perapihan)
- C: -_-'" (seketika nelen laptop)
Minggu, 18 Agustus 2013
Media Api (Mediafire)
Selasa, 02 Juli 2013
Sepenggal Kisah 19 April 2008
Kelas tersebut sunyi.
Suara goresan pensil menghiasi kelas tersebut. seorang guru duduk di depan
sambil memeriksa ujian dari kelas lain. Entah apa penyebabnya, guru tersebut
keluar dari ruang kelas yang sempit dan gerah untuk ukuran 42 siswa didalamnya.
Suasana hening
tersebut seketika berubah menjadi pasar yang dimana mereka bertransaksi dengan
berbisik-bisik. Suara hening yang tercipta ternyata hanyalah sampul yang
diciptakan oleh para murid kelas Delapan G yang sedang mengerjakan ulangan
harian matematika. Hanya beberapa saja yang wajahnya tidak teralihkan dari
kertas ujiannya sambil sesekali menghapuskan tulisan yang salah. Di ruang kelas
itulah aku berada. Suara berisik tersebut membuyarkan rumus yang samar-samar
tergambar di otak. Membolak-balik pikiran yang sedari tadi mecoba membedakan
rumus untuk jawaban a dan rumus untuk jawaban b. Dua soal yang berbeda namun
memiliki rumus yang hampir sejenis.
Sesekali suara
seseorang memanggil. Menanyakan soal yang sedari tadi membingungkan diriku.
Hanya tidak tahu-lah yang keluar dari mulutku. Bagaimana bisa menjawab, diriku
saja belum berhasil memecahkan soal tersebut. Kali ini aku lelah, menjadi
sumber jawaban untuk kelas tersebut (walaupun hanya beberapa yang bertanya).
Bagiku, mensontek adalah suatu yang terlarang. Orangtuaku sudah menanamkan hal
ini sejak aku kelas satu SD. Walaupun aku selalu menjadi korban sumber jawaban
di kelas sejak kelas tujuh, tapi ku usahakan untuk tidak bertanya jawaban pada
orang lain. Aku hanya bergantung pada jawaban yang ku hasilkan.
Jumat, 28 Juni 2013
Torehan Kata (Lagi?)
Setiap manusia pasti memiliki keinginan.
Gue adalah seseorang yang menganggap bahwa adanya peer group merupakan sebuah pengkotak-kotakkan yang secara tidak sadar muncul secara alami. Munculnya peer group bagi gue merupakan hal yang tidak sehat karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam lingkungan tersebut tidak adanya integrasi yang baik dalam satu kelompok besar tersebut sehingga menimbulkan kelompok-kelompok kecil. Bisa dibilang, gue ga suka akan kemunculan suatu peer group.
Si A akan selalu bermain dan hang out dengan si B, C, D, dan F, lalu si G akan selalu berkumpul dengan si H, I, J, dll. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan salah satu peer group tersebut? Orang tersebut hanya akan terlihat selalu sendiri.
Gue selalu memperhatikan ini sejak gue masih kelas satu SMP (ya, dikelas dua dan tiga gue masuk dalam peer group juga). Gue selalu ngerasa kalau keberadaan peer group tersebut menyebalkan. Lo cuma main dengan orang yang sama seakan-akan menutup pergaulan lo dengan orang yang lain. Gue juga pernah nge-peer group sama temen SMP gue dan gue ngerasa kalau... (ya, bisa dilihat)
Gue bener-bener ga suka dengan keberadaan peer group saat gue kelas satu SMA. Gue bener-bener sendiri. Gabung sama orang pun gue ngerasa sendiri. Soalnya, masing-masing peer group menceritakan apa yang gue ga ngerti.
Sekesal apapun gue sama keberadaan peer group, gue sadar kalau peer group ga akan bisa dilarang. Setiap orang mempunyai kecocokkan dengan teman ngobrolnya dan akan menghasilkan sebuah peer group yang dekat. Mereka merasa nyaman jika bermain dengan peer group mereka. Saling sharing, curhat, sampai ngobrol ke hal yang tidak penting.
Bisa dibilang, peer group juga merupakan kelompok belajar yang tercipta secara tidak sengaja dari ketidaksengajaan terbentukknya peer group.
Inti dari gue nulis ini adalah adanya rasa iri dalam diri gue yang bisa dibilang selalu terlihat sendiri. Ketika ada kesulitan, gue susah nyeritainnya. Ketika ingin bergabung, lo pasti ngerasa "ah, gue kayaknya ga cocok sama mereka" atau "dia ga cocok sama kita". Gue suka merasa kesal sendiri dengan diri gue yang susah utk bersosialisasi dengan keadaan sekitar. Padahal gue sendiri di jurusan yang menuntut kepekaan gue terhadap keadaan sosial di sekitar gue. Gue juga suka ngiri dengan peer group yang kerjanya selalu belajar.
Harapan gue adalah, gue bisa punya peer group kayak dulu gue SMP. Ah, sudah... Gue hanya berharap kok ^^-
Gue adalah seseorang yang menganggap bahwa adanya peer group merupakan sebuah pengkotak-kotakkan yang secara tidak sadar muncul secara alami. Munculnya peer group bagi gue merupakan hal yang tidak sehat karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam lingkungan tersebut tidak adanya integrasi yang baik dalam satu kelompok besar tersebut sehingga menimbulkan kelompok-kelompok kecil. Bisa dibilang, gue ga suka akan kemunculan suatu peer group.
Si A akan selalu bermain dan hang out dengan si B, C, D, dan F, lalu si G akan selalu berkumpul dengan si H, I, J, dll. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan salah satu peer group tersebut? Orang tersebut hanya akan terlihat selalu sendiri.
Gue selalu memperhatikan ini sejak gue masih kelas satu SMP (ya, dikelas dua dan tiga gue masuk dalam peer group juga). Gue selalu ngerasa kalau keberadaan peer group tersebut menyebalkan. Lo cuma main dengan orang yang sama seakan-akan menutup pergaulan lo dengan orang yang lain. Gue juga pernah nge-peer group sama temen SMP gue dan gue ngerasa kalau... (ya, bisa dilihat)
Gue bener-bener ga suka dengan keberadaan peer group saat gue kelas satu SMA. Gue bener-bener sendiri. Gabung sama orang pun gue ngerasa sendiri. Soalnya, masing-masing peer group menceritakan apa yang gue ga ngerti.
Sekesal apapun gue sama keberadaan peer group, gue sadar kalau peer group ga akan bisa dilarang. Setiap orang mempunyai kecocokkan dengan teman ngobrolnya dan akan menghasilkan sebuah peer group yang dekat. Mereka merasa nyaman jika bermain dengan peer group mereka. Saling sharing, curhat, sampai ngobrol ke hal yang tidak penting.
Bisa dibilang, peer group juga merupakan kelompok belajar yang tercipta secara tidak sengaja dari ketidaksengajaan terbentukknya peer group.
Inti dari gue nulis ini adalah adanya rasa iri dalam diri gue yang bisa dibilang selalu terlihat sendiri. Ketika ada kesulitan, gue susah nyeritainnya. Ketika ingin bergabung, lo pasti ngerasa "ah, gue kayaknya ga cocok sama mereka" atau "dia ga cocok sama kita". Gue suka merasa kesal sendiri dengan diri gue yang susah utk bersosialisasi dengan keadaan sekitar. Padahal gue sendiri di jurusan yang menuntut kepekaan gue terhadap keadaan sosial di sekitar gue. Gue juga suka ngiri dengan peer group yang kerjanya selalu belajar.
Harapan gue adalah, gue bisa punya peer group kayak dulu gue SMP. Ah, sudah... Gue hanya berharap kok ^^-
Rabu, 26 Juni 2013
Sedikit Ocehan Tengah Malam
Gue sadar, udah lumayan lama gue ga nulis kegiatan harian gue di diary atau di blog. lagian ga penting juga sih gue nge-share itu. apa pentingnya? entahlah -_-
dan gue sadar, nulis diary itu sebenernya penting banget. nulis diary itu meningkatkan kemampuan nulis gue. dari nulis diary, lo bisa nyusun kronologi yang jelas dan terstruktur kalo lo mau nulis sebuah cerita. lo juga bisa membuat suatu awalan yang jelas kalau lo mau bikin tugas esai atau analisis terhadap suatu masalah. diary juga bisa ningkatin kemampuan lo dalam nyusun kata-kata yang tepat dalam menulis. (dan diary pula merupakan mesin waktu yang membawamu kembali ke masa dimana yang mungkin hampir terlupakan olehmu. ke masa dimana masa tersebut membuatmu tersenyum, menangis, atau keadaan lainnya). ah, sudahlah. bukan ini sebenarnya yang ingin ku tulis dalam posting kali ini.
Kalian tahu istilah Tsundere? Bagi para otaku, ini merupakan kalimat yang tidak asing lagi di telinga kalian. Penjelasan singkat untuk Tsundere adalah seorang yang menyukai orang lain, tapi dia bertindak seolah dia tidak menyukai orang tersebut, bahkan bertindak seperti membenci orang tersebut. Kalau ada sesuatu yang membuat dia merasa tersanjung oleh orang yang dia sukai, maka dia akan bertindak menolak segala yang terjadi. Bertindak seolah-olah sanjugan tersebut adalah hal yang menyebalkan. Saking menolaknya, seorang tsundere ini malah bertindak salah tingkah dan kedok yang ia ciptakan sedikit terkuak. Seorang Tsundere juga seorang yang ekspresif.
Kalian tahu istilah Dandere? Dandere adalah sifat yang terkesan anti sosial dan berekspresi datar. sebenarnya, dia tidak suka menjadi ansos begitu, namun karena bisa dibilang dia pemalu dalam melakukan sosialisasi, dia di-cap oleh orang sekitarnya sebagai seorang yang ansos. Ditambah ekspresinya yang cenderung datar, membuat kesan yang tidak-mau-tahu pada dirinya. Bahkan ketika ia menyukai seseorang, tidak banyak ekspresi yang dikeluarkan olehnya. Tapi, seorang dandere bisa melakukan hal yang tidak terduga saat dia menjadi salah tingkah. Dia juga tidak ekspresif seperti seorang tsundere.
Ya, bayangkan saja jika ada orang yang memiliki gabungan dari kedua sifat tersebut (tsun-tsun dan danmari), seseorang yang berekspresi datar tiba-tiba bertindak ekspresif ketika terjadi suatu hal yang tidak terduga. Tiba-tiba terbata dalam berbicara. mencoba mendatarkan ekspresi seperti biasa, namun, tingkah lakunya menjadi tidak biasa. ah, membingungkan. sifatnya selalu berubah. kadang dia menjadi sangat "cool", dan diam, kadang dia menjadi sangat "bossy" dan berisik. Menyebalkan
Rabu, 19 Juni 2013
Konflik Sebagai Masalah Atau Solusi?
Konflik adalah
pertentangan antara dua atau lebih pihak yang masing-masing memiliki tujuan
yang berbeda dan ingin dicapai. Banyak orang memiliki persepsi yang berbeda
terhadap konflik ini. Bagi banyak orang, konflik adalah suatu masalah yang
harus dihindari. Konflik terjadi jika ada dalam suatu kelompok tersebut
memiliki keinginan yang tidak lagi sama. Disatu sisi, ada yang memandang bahwa
konflik adalah suatu hal yang biasa terjadi dalam dinamika masyarakat. Hal
tersebut berfungsi sebagai penguat integritas masyarakat tersebut.
Pendekatan Fungsionalis
Pendekatan Fungsional merupakan teori
yang dikembangkan oleh Talcott Parsons menyatakan bahwa masyarakat sebagai
sebuah komponen atau kesatuan beserta fungsi-fungsinya yang saling mempengaruhi
satu sama lain. Dapat disimpulkan bahwa tindakan sosial diarahkan pada tujuan dan
diatur secara normative.
Dalam hubungan bermasyarakat, anggota
masyarakat melakukan hubungan timbal balik yang menghasilkan suatu sistem
sosial. Menurut
parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi
semua system social, meliputi adaptasi (A), pencapaian
tujuan atau goal attainment (G), integrasi (I), dan Latensi (L).
Sebagaimana yang telah dipelajari
mengenai teori Pendekatan Fungsionalisme oleh Talcott Parsons, maka kesimpulan berupa:
Langganan:
Postingan (Atom)