Kamis, 05 Desember 2013

Review Serial Drama - Change!

Judul                           : Change!
Genre                          : Drama, Politik
Jumlah Episode           : 10
Rating                         : 21.7 (Kanto)
Cast                            : Kimura Takuya, Fukatsu Eri, Abe Hiroshi, etc


Setiap individu adalah pemimpin. Baik untuk orang lain maupun dirinya sendiri sebagai individu. Membawa pengaruh kepada apa yang dipimpinnya, membawa angin perubahan bagi lingkungannya. Ia seperti kompas, menunjukkan suatu arah yang diyakini benar. Semua orang adalah pemimpin, namun tidak semua orang berjiwa pemimpin. Memiliki kepekaan yang lebih terhadap lingkungannya, berpikir kritis, mau belajar, menanungi rakyatnya dengan adil dan tanpa pandang bulu dan pantang menyerah adalah sedikit dari sifat seorang pemimpin.
            Itulah yang dilakukan oleh seorang Asakura Keita. Seorang guru SD kelas lima yang kehidupannya berubah drastic menjadi seorang politisi, Suatu kejadian yang tidak terduga membawanya pada dunia politik yang penuh dengan intrik dan permainan. Dalam serial Change ini, Kimura Takuya yang berperan sebagai Asakura Keita, memiliki kehidupan yang penuh kejutan. Setelah kematian ayahnya dalam kecelakaan pesawat di Vietnam, ia diminta menggantikan ayahnya dalam pemilihan anggota parlemen Distrik Fukuoka. Ia menolak, namun karena yang menjadi taruhan adalah ibunya, maka ia bersedia menggantikan ayahnya dalam pemilihan tersebut, dengan konsekuensi jika ia kalah, maka tidak ada lagi yang boleh memaksanya masuk ke dunia politik.

Minggu, 29 September 2013

Kapitalisme dalam Pemberantasan Kemiskinan

Kapitalisme adalah sistem ekonomi dimana sejumlah besar pekerja, yang hanya memiliki sedikit hak milik memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis yang memiliki komoditas-komoditas, alat produksi, bahkan waktu kerja para pekerja karena mereka membeli para pekerja tersebut melalui gaji. Namun salah satu pengertian sentral yang ditekankan oleh Marx adalah bahwa kapitalisme lebih dari sekedar sistem ekonomi. Paling penting lagi, kapitalisme adalah sistem kekuasaan. Rahasia kapitalisme adalah bahwa kekuatan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi (Wood, 1995).
Dari pengertian tersebut, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang sangat mengagungkan para pemilik modal. Setiap orang yang memiliki alat produksinya sendiri akan memperkaya dirinnya dan semakin menindas para kaum buruh yang bekerja untuk mereka. Para kapitalis bisa memaksa para pekerja dengan kewenangan mereka untuk memecat dan menutup pabrik-pabrik. Karena hal inilah para kapitalis bebas untuk menggunakan paksaan yang kasar. Dalam hal ini kapitalis juga memegang fungsinya sebagai sistem politis, suatu cara menjalankan kekuasaan, dan suatu  proses eksploitasi atas para pekerja (Ritzer dan Goodman, 2012: 58).

Pengertian Masalah Sosial

Masalah sosial menurut Gillin dan Gillin adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan yang membahayakan kelompok sosial atau mengahambat menghambat terpenuhinya keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut. Sehingga rusaknya suatu ikatan sosial. Ketidaksesuaian ini muncul karena tidak adanya integrasi yang harmonis dalam suatu unsur kehidupan masyarakat tersebut. Masalah sosial merupakan persoalan yang yang menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak.
Menurut Soerjono Soekamto, masalah sosial ini timbul karena adanya kekurangan dalam diri manusia atau kelompok manusia yang bersumber pada faktor ekonomis, biologis, biopsikologis, dan kebudayaaan.
Menurut Horton dan Leslie, Masalah Sosial yaitu situasi sosial yang tidak diinginkan oleh sejumlah orang karena dikhawatirkan akan mengganggu sistem sosial dan perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah perilaku yang menyimpang dari nilai atau norma-norma (Horton dan Leslie, 1984).
Sedangkan menurut Blumer (1971) dan Thompson (1988), yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan bersama.

Kamis, 29 Agustus 2013

Hanabi #1

sedikit curhat mengenai fanfiction. sebenernya ini buka fanfiction pertama yang gue buat. tapi ini fanfiction gue yang (insyaAllah, akan) selesai dan doujin yang pertama kali di posting. gue agak ragu utk ngepos ff atau doujin ini. soalnya kepanjangan. tapi, setelah ngeliat banyak yang nge-post doujin diatas 8.000 kata, gue betah-betah aja bacanya (dan karena doujin mereka keren. ah, semoga gue bisa bikin cerita sekeren mereka). 
fanfict ini bakal di posting secara bersambung. dikhawatirkan kesulitan untuk scrolling. seperti yang biasa dilakukan para ff maker (gue lupa bahasa Jepangnya apa), karakter di cerita ini adalah sepenuhnnya milik Masashi Kishimoto-sensei. cerita disusun oleh saya sebagai author. terinspirasi dari banyak cerita. untuk pertamakalinya dalam posting blog, gue mohon komentar, kritik, dan sarannya. Terimakasih :D

*Prolog*
“Wah, lihat. Pertunjukan kembang apinya  sudah mulai. Lihatlah, kembang apinya sangat indah. Aku sangat menyukainya”, ucap gadis itu polos.

Saat itu usia kami masih lima tahun. Saat itu pula pertemuan pertama kami, hari yang tidak akan pernah aku lupakan karena hari itulah hari semua kisah ini dimulai. aku menemukannya sedang menangis di keramaian festival kembang api yang diadakan saat musim panas tiba. Tidak ada yang menyadari bahwa ada seorang anak kecil sedang menangis karena ukuran badannya yang kecil, atau karena tidak terdengar suara tangisan darinya. Aku yang akan memakan gulali yang baru saja kubeli tertahan karena anak tersebut menarik perhatianku. Langsung saja kutarik tangannya untuk menepi. Dia hanya menurut saat kutarik tangannya.
“Hei, kenapa kau menangis?”, tanyaku penasaran dan aku masih ingat seberapa polosnya diriku saat itu.
“Aku tersesat. Aku terpisah dari too-san dan kaa-san ku. Hiks…”, jawabnya sambil terisak. Air mata yang berceceran serta ingus yang meluber dari hidungnya membuat ekspresi gadis itu semakin menggemaskan. Saat itu aku berkhayal ‘andai aku mempunyai adik seperti dia, mungkin setiap hari pipinya akan memerah karena korban cubitanku’.
“Ini untukmu. Jangan menangis lagi ya. Kita akan bersama-sama mencari kaa-san dan too-san mu”, ajakku sambil memberikan gulali yang belum sempat kumakan. Padahal saat itu, aku juga sedang terpisah dari orang tuaku. Awalnya dia ragu-ragu untuk mengambilnya. Akupun meyakinkannya dengan cengiran khas ku.
“Terimakasih”, jawabnya tersedu-sedu sambil menyeka air matanya dan berusaha untuk tidak menangis.
Kami pun bersama-sama mencari orang gadis itu. Tanpa terasa, pertunjukkan kembang api sudah dimulai. Karena belum menemukan orang tua nya, aku mengajaknya untuk beristirahat di pinggir danau sambil menikmati pertunjukkan kembang api tersebut.
“Dari tadi kita belum kenalan ya. Kenalkan, namaku Uzumaki Naruto. Panggil saja Naruto”, aku mulai memperkenalkan diri.
“Aku, Hyuuga Hinata. Kau bisa memanggilku Hinata”, jawabnya dengan suara yang pelan. “Wah, kembang apinya bagus ya”, lanjutnya saat melihat kembang api bermekaran di langit. Ekspresi sedihnya tadi seketika berubah menjadi senang bahkan untuk sesaat, dia melupakan kalau dirinya sedang tersesat ketika melihat kembang api itu.
Sejak saat itu, Hinata menjadi maniak kembang api. Bahkan ia memaksa orang tuanya untuk memberikan nama ‘Hanabi’ pada adiknnya yang baru lahir. Pertemuan pertama itu juga yang membuat kami selalu satu sekolah hingga jenjang SMA. Dan pertemuan itulah yang tanpa sengaja membuat kami menjadi sahabat hingga saat ini.

“Aku menyukai kembang api. Walaupun sesaat, namun kembang api tersebut mampu menerangi pekatnya malam dengan warna-warni yang menghiasi langit. Membuat hati setiap orang yang melihatnya merasa damai”, ucap Hinata kepadaku saat masih duduk di bangku SMP.

Setiap tahun, kami tidak pernah melewatkan festival kembang api ini. Kami selalu berdua saat SD. Hingga ada gossip yang mengatakan bahwa kami pacaran. Padahal saat itu saja aku tidak tahu apa yang dinamakan pacaran tersebut. Bahkan hingga bangku SMP saat itu, kami selalu belajar bersama. Hinata selalu menjadi bintang sekolah baik saat SD maupun SMP. Aku bisa masuk ke SMP ternama di kota tersebut karena aku selalu belajar bersama dengannya. Hinata mempunyai satu kelemahan yaitu ia cepat menyerah atas apa yang ia coba.  Dan salah satu tugasku adalah untuk membangkitkan semangatnya tersebut karena jika tidak, ia tidak akan menyelesaikan tugas-tugasnya tersebut dan bisa-bisa tidak ada yang mengajari aku untuk menyelesaikan tugasku sendiri.
Semaki hari, perasaaku pada Hinata semakin berkembang. Aku menganggap Hinata bukan hanya sekedar sahabat. Sikapnya yang pemalu serta kekanak-kanakan, perhatiannya yang selalu tercurahkan pada semua orang, kepandaiannya, membuat Hinata semakin terlihat begitu sempurna di hadapanku. Ingin rasa hati mengungkapkan perasaan ini padanya yang selama ini terpendam. Namun, aku takut. Aku takut hal ini dapat merusak hubungan persahabatanku dengannya. Lagi pula, aku merasa tidak pantas untuk disandingkan dengan marga Hyuuga yang satu ini. Bagiku, dia terlalu sempurna. Baik dalam segi akademis maupun non akademis serta atitut yang dia tunjukkan pada semua orang. Berbeda denganku yang bahkan tidak pernah masuk 20 besar di kelas. Lebih baik aku menyimpan perasaan ini saja.

“Aku menyukai kembang api. Keindahan warnanya ditengah pekatnya malam mewarnai setiap hati yang sunyi. Membangkitkan kenangan masa lalumu. Keinginanku sekarang adalah ada seseorang yang menyatakan perasaan cintanya padaku dengan kilauan hanabi sebagai saksinya”, ucap gadis berambut indigo itu. Saat ia mengatakannya,  kami sudah duduk di bangku kelas satu SMA.

Dengan selesainya kalimat yang diucapkan Hinata, berakhir pulalah pertunjukkan kembang api itu. Aku terlambat mendapatkan momen yang hanya ada satu tahun sekali itu. Dari pada menyesali diri sendiri karena membatalkan niat untuk menembaknya, akupun memancing pembicaraan.
“Seorang bintang sekolah Konoha tidak pernah pacaran? Kurasa bukan tidak ada anak lelaki yang menyukaimu, kalu itu jangan ditanya. Mungkin seisi Konoha High School sedang mengantri menembakmu. Namun karena sifatmu yang introvert serta hanya bergaul dengan buku atau aku saja”, ucapku santai. Ia hanya menanggapinya dengan dengusan pelan. Aku tahu, Hinata memang kesulitan dalam menjalin pergaulan dengan teman-teman di sekolah. Ia hannya merasa nyaman hanya dengan orang terdekatnya saja. Hei, sebentar. Apakah ini sebuah kode?
“Aku lihat seorang anak laki-laki dari kelas dua memberimu sebuah bungkusan. Apa dia menembakmu, Hinata?”, tanyaku tanpa berpikir apa akibatnya terlebih dahulu.
“Iya”, jawabnya datar “dan aku menolaknya. Jika dilihat sekilas, ia setipe denganmu”, lanjutnya. Syukurlah, aku senang ia tidak menerimanya. Tapi, hei, apa Hinata menolaknya karena anak itu setipe denganku? Seketika ekspektasi tentang perasaannya kepadaku hacur.
“Lalu bagaiman dengan tipe cowok idealmu? Sepertinya kau tidak pernah cerita pernah menyukai seseorang”, aku ingin tahu lebih dalam tentang itu. Sebersit pikiranku mengatakan bahwa jangan-jangan dia adalah ‘yuri’.
“Jangan berpikir kalau aku tidak normal ya, Naruto!”, ia menjawab seperti mengetahui tentang apa yang aku pikirkan barusan. “hufft, tipe cowok, tidak ada yang spesifik. Aku juga bingung jika ada yang bertanya tentang itu”, jawabnya polos. Bahkan ke sahabatnya sendiripun, ia masih tertutup jika ditanya tentang masalah hati. 
to be continued...

Minggu, 18 Agustus 2013

Media Api (Mediafire)

  • A: notulensinya nanti di share terus link nya posting di twitter ya
  • B: siap kak ^0^
  • (Beberapa saat kemudian)
  • A: udah?
  • B: belum kak. pake google docs cuma bisa di buka pake akun sendiri (yang mem-publish). ga bisa dibuka orang lain ><
  • C: pake mediafire aja kak (memberi saran). nanti orang lain juga bisa download
  • A: yaudah, coba aja
  • B: jangan... nanti filenya kebakar. kan api. bruuuw (menirukan suara perapihan)
  • C: -_-'" (seketika nelen laptop)

Selasa, 02 Juli 2013

Sepenggal Kisah 19 April 2008

Kelas tersebut sunyi. Suara goresan pensil menghiasi kelas tersebut. seorang guru duduk di depan sambil memeriksa ujian dari kelas lain. Entah apa penyebabnya, guru tersebut keluar dari ruang kelas yang sempit dan gerah untuk ukuran 42 siswa didalamnya.
Suasana hening tersebut seketika berubah menjadi pasar yang dimana mereka bertransaksi dengan berbisik-bisik. Suara hening yang tercipta ternyata hanyalah sampul yang diciptakan oleh para murid kelas Delapan G yang sedang mengerjakan ulangan harian matematika. Hanya beberapa saja yang wajahnya tidak teralihkan dari kertas ujiannya sambil sesekali menghapuskan tulisan yang salah. Di ruang kelas itulah aku berada. Suara berisik tersebut membuyarkan rumus yang samar-samar tergambar di otak. Membolak-balik pikiran yang sedari tadi mecoba membedakan rumus untuk jawaban a dan rumus untuk jawaban b. Dua soal yang berbeda namun memiliki rumus yang hampir sejenis.
Sesekali suara seseorang memanggil. Menanyakan soal yang sedari tadi membingungkan diriku. Hanya tidak tahu-lah yang keluar dari mulutku. Bagaimana bisa menjawab, diriku saja belum berhasil memecahkan soal tersebut. Kali ini aku lelah, menjadi sumber jawaban untuk kelas tersebut (walaupun hanya beberapa yang bertanya). Bagiku, mensontek adalah suatu yang terlarang. Orangtuaku sudah menanamkan hal ini sejak aku kelas satu SD. Walaupun aku selalu menjadi korban sumber jawaban di kelas sejak kelas tujuh, tapi ku usahakan untuk tidak bertanya jawaban pada orang lain. Aku hanya bergantung pada jawaban yang ku hasilkan.

Jumat, 28 Juni 2013

Torehan Kata (Lagi?)

Setiap manusia pasti memiliki keinginan. 

Gue adalah seseorang yang menganggap bahwa adanya peer group merupakan sebuah pengkotak-kotakkan yang secara tidak sadar muncul secara alami. Munculnya peer group bagi gue merupakan hal yang tidak sehat karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam lingkungan tersebut tidak adanya integrasi yang baik dalam satu kelompok besar tersebut sehingga menimbulkan kelompok-kelompok kecil. Bisa dibilang, gue ga suka akan kemunculan suatu peer group

Si A akan selalu bermain dan hang out dengan si B, C, D, dan F, lalu si G akan selalu berkumpul dengan si H, I, J, dll. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan salah satu peer group tersebut? Orang tersebut hanya akan terlihat selalu sendiri. 

Gue selalu memperhatikan ini sejak gue masih kelas satu SMP (ya, dikelas dua dan tiga gue masuk dalam peer group juga). Gue selalu ngerasa kalau keberadaan peer group tersebut menyebalkan. Lo cuma main dengan orang yang sama seakan-akan menutup pergaulan lo dengan orang yang lain. Gue juga pernah nge-peer group sama temen SMP gue dan gue ngerasa kalau... (ya, bisa dilihat)

Gue bener-bener ga suka dengan keberadaan peer group saat gue kelas satu SMA. Gue bener-bener sendiri. Gabung sama orang pun gue ngerasa sendiri. Soalnya, masing-masing peer group menceritakan apa yang gue ga ngerti. 

Sekesal apapun gue sama keberadaan peer group, gue sadar kalau peer group ga akan bisa dilarang. Setiap orang mempunyai kecocokkan dengan teman ngobrolnya dan akan menghasilkan sebuah peer group yang dekat. Mereka merasa nyaman jika bermain dengan peer group mereka. Saling sharing, curhat, sampai ngobrol ke hal yang tidak penting.
Bisa dibilang, peer group juga merupakan kelompok belajar yang tercipta secara tidak sengaja dari ketidaksengajaan terbentukknya peer group. 

Inti dari gue nulis ini adalah adanya rasa iri dalam diri gue yang bisa dibilang selalu terlihat sendiri. Ketika ada kesulitan, gue susah nyeritainnya. Ketika ingin bergabung, lo pasti ngerasa "ah, gue kayaknya ga cocok sama mereka" atau "dia ga cocok sama kita". Gue suka merasa kesal sendiri dengan diri gue yang susah utk bersosialisasi dengan keadaan sekitar. Padahal gue sendiri di jurusan yang menuntut kepekaan gue terhadap keadaan sosial di sekitar gue. Gue juga suka ngiri dengan peer group yang kerjanya selalu belajar. 

Harapan gue adalah, gue bisa punya peer group kayak dulu gue SMP. Ah, sudah... Gue hanya berharap kok ^^-

Rabu, 26 Juni 2013

Sedikit Ocehan Tengah Malam

Gue sadar, udah lumayan lama gue ga nulis kegiatan harian gue di diary atau di blog. lagian ga penting juga sih gue nge-share itu. apa pentingnya? entahlah -_-
dan gue sadar, nulis diary itu sebenernya penting banget. nulis diary itu meningkatkan kemampuan nulis gue. dari nulis diary, lo bisa nyusun kronologi yang jelas dan terstruktur kalo lo mau nulis sebuah cerita. lo juga bisa membuat suatu awalan yang jelas kalau lo mau bikin tugas esai atau analisis terhadap suatu masalah. diary juga bisa ningkatin kemampuan lo dalam nyusun kata-kata yang tepat dalam menulis. (dan diary pula merupakan mesin waktu yang membawamu kembali ke masa dimana yang mungkin hampir terlupakan olehmu. ke masa dimana masa tersebut membuatmu tersenyum, menangis, atau keadaan lainnya). ah, sudahlah. bukan ini sebenarnya yang ingin ku tulis dalam posting kali ini.

Kalian tahu istilah Tsundere? Bagi para otaku, ini merupakan kalimat yang tidak asing lagi di telinga kalian. Penjelasan singkat untuk Tsundere adalah seorang yang menyukai orang lain, tapi dia bertindak seolah dia tidak menyukai orang tersebut, bahkan bertindak seperti membenci orang tersebut. Kalau ada sesuatu yang membuat dia merasa tersanjung oleh orang yang dia sukai, maka dia akan bertindak menolak segala yang terjadi. Bertindak seolah-olah sanjugan tersebut adalah hal yang menyebalkan. Saking menolaknya, seorang tsundere ini malah bertindak salah tingkah dan kedok yang ia ciptakan sedikit terkuak. Seorang Tsundere juga seorang yang ekspresif.

Kalian tahu istilah Dandere? Dandere adalah sifat yang terkesan anti sosial dan berekspresi datar. sebenarnya, dia tidak suka menjadi ansos begitu, namun karena bisa dibilang dia pemalu dalam melakukan sosialisasi, dia di-cap oleh orang sekitarnya sebagai seorang yang ansos. Ditambah ekspresinya yang cenderung datar, membuat kesan yang tidak-mau-tahu pada dirinya. Bahkan ketika ia menyukai seseorang, tidak banyak ekspresi yang dikeluarkan olehnya. Tapi, seorang dandere bisa melakukan hal yang tidak terduga saat dia menjadi salah tingkah. Dia juga tidak ekspresif seperti seorang tsundere.

Ya, bayangkan saja jika ada orang yang memiliki gabungan dari kedua sifat tersebut (tsun-tsun dan danmari), seseorang yang berekspresi datar tiba-tiba bertindak ekspresif ketika terjadi suatu hal yang tidak terduga. Tiba-tiba terbata dalam berbicara. mencoba mendatarkan ekspresi seperti biasa, namun, tingkah lakunya menjadi tidak biasa. ah, membingungkan. sifatnya selalu berubah. kadang dia menjadi sangat "cool", dan diam, kadang dia menjadi sangat "bossy" dan berisik. Menyebalkan

Rabu, 19 Juni 2013

Konflik Sebagai Masalah Atau Solusi?

Konflik adalah pertentangan antara dua atau lebih pihak yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda dan ingin dicapai. Banyak orang memiliki persepsi yang berbeda terhadap konflik ini. Bagi banyak orang, konflik adalah suatu masalah yang harus dihindari. Konflik terjadi jika ada dalam suatu kelompok tersebut memiliki keinginan yang tidak lagi sama. Disatu sisi, ada yang memandang bahwa konflik adalah suatu hal yang biasa terjadi dalam dinamika masyarakat. Hal tersebut berfungsi sebagai penguat integritas masyarakat tersebut.

Pendekatan Fungsionalis

Pendekatan Fungsional merupakan teori yang dikembangkan oleh Talcott Parsons menyatakan bahwa masyarakat sebagai sebuah komponen atau kesatuan beserta fungsi-fungsinya yang saling mempengaruhi satu sama lain. Dapat disimpulkan bahwa tindakan sosial diarahkan pada tujuan dan diatur secara normative. 
Dalam hubungan bermasyarakat, anggota masyarakat melakukan hubungan timbal balik yang menghasilkan suatu sistem sosial. Menurut parson ada empat fungsi penting yang mutlak dibutuhkan bagi semua system social, meliputi adaptasi (A), pencapaian tujuan atau  goal attainment (G), integrasi (I), dan Latensi (L).
Sebagaimana yang telah dipelajari mengenai teori Pendekatan Fungsionalisme oleh Talcott Parsons, maka kesimpulan berupa:

Alienasi

Karl Marx, seorang tokoh sosiologi yang memiliki prespektif konflik menyatakan bahwa manusia sebagai Homo Fabier yang berarti manusia pekerja. Manusia bekerja untuk mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang ia inginkan. Bekerja menurut Marx harus menghasilkan sesuatu. Bukan hanya hasil berupa barang. Hasil yang dimaksud Marx adalah manusia akan mendapatkan makna dan kepuasan dalam hidup. Tapi pada kenyataannya, kerja tidak sekedar bertujuan mencari makna dan melaksanakan kepentingan, kerja juga merupakan alat penting yang dipakai manusia untuk memperoleh makna dan dan memenuhi kebenaran (Sayers, 1988).
            Yang menjadi pertanyaan bagi Marx adalah nasib para buruh. Saat kapitalis merajalela, pabrik-pabrik mulai bermunculan. Oleh karena itu, diperlukan buruh-buruh yang dapat dibayar murah dengan cara memberikan buruh pekerjaan yang tidak mengembangkan kemampuan mereka.

Masalah Sosial dan Penanggulangan

Masalah sosial (social problem) menurut Gillin dan Gillin adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan yang membahayakan kelompok sosial atau mengahambat menghambat terpenuhinya keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut. Sehingga rusaknya suatu ikatan sosial. Ketidaksesuaian ini muncul karena tidak adanya integrasi yang harmonis dalam suatu unsur kehidupan masyarakat tersebut. Masalah sosial merupakan persoalan yang yang menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Menurut Soerjono Soekamto, masalah sosial ini timbul karena adanya kekurangan dalam diri manusia atau kelompok manusia yang bersumber pada faktor ekonomis, biologis, biopsikologis,dan kebudayaaan.sedangkan menurut Blumer (1971) dan Thompson (1988), yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan bersama.

Minggu, 28 April 2013

Klasifikasi Tindakkan Sosial Menurut Max Weber


Webber mengklasifikasikan tindakan sosial menjadi empat jenis, yaitu:
1.      Tindakan Tradisional
Tindakan sosial dalam buku berjudul “The Problem of Sociology”, tindakan tradisional dalam pelaksanaannya terdapat batasan antara suatu kegiatan yang bermakna dan tidak bermakna dan dapat dijelaskan dengan interpretative sosiologi. Ini karena tindakan tradisional adalah tindakan yang dilakukan dibawah pengaruh adat dan kebiasaan. Hal tersebut dilakukan secara sadar dan berdasarkan pada tindakan yang tradisional, bahkan tindakan tersebut mengandung nilai subjektif dan tidak dapat dipahami (Lee: 176).
Jadi, tindakan tradisional berdasarkan suatu nilai yang hanya mengikut pada tradisi yang dilakukan dan hanya berdasarkan oleh para pendahulunya saja, tidak tahu apa maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Tindakan ini bahkan tidak rasional untuk dilaksanakan. Contohnya adalah upacara adat Jawa yang sudah ada semenjak zaman dahulu. Kadang tujuannya bahkan tidak diketahui oleh yang melaksanakan. Contoh laainnya adalah kegiatan mudik yang dilaksanakan setiap lebaran tiba.
2.      Tindakan Afektif
Tindakan ini terjadi dibawah pengaruh keadaan emosional seseorang. Sama seperti tindakan tradisional, tindaka afektif juga memiliki sifat naluriah, tidak sadar atau tidak dapat dimengerti dan hanya dapat dijelaskan oleh psikologi dan psikoanalisa. Tindakan afektif ditandai dengan fakta bahwa tindakan tersebut tidak membawa tujuan untuk berakhir, tetapi sebagai tujuan itu sendiri dan murni untuk kepentingan dirinya sendiri (Lee: 177). Tindakan ini juga bersifat irrasional. Contohnnya adalah seseorang bekerja lebih giat untuk mendapatkan pujian dari atasannya. Tindakan ini didasarkan pada perasaan yang ingin mendapat perhatian lebih. Contoh lainnya, orang tua akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Bahkan melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan anaknya. Tindakan afektif terhadap si anak, membuat orangtua tersebut melakukan hal yang orang lain tidak mau lakukan.
3.      Rasional Berorientasikan Nilai
Rasionalitas berorientasikan nilai dijujung tinggi oleh fakta yang individual dikendalikan untuk mengesampingkan suatu yang ideal. Tindakan rasional berorientasikan nilai berpegang pada agama, politik atau lainnya sehingga menyebabkan tidak memperhitungkan pertimbangan lain yang relevan (Lee: 177).
Bagaimanapun, hal ini tetap mengandung suatu yang irasional karena ini hanya mengangkat satu tujuan khusus diatas semua dan tidak menghitung konsekuensi dari serangkaian tujuan yang mungkin memiliki pada pencapaian tujuan-tujuan mereka sendiri.
Jadi, rasional berorientasikan nilai adalah tindakan sosial yang memperhitungkan manfaatnya, tapi tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan. yang pasti tidakan tersebut dinilai baik dan benar oleh masyarakat sekitarnya.
Contohnya yaitu seseorang yang melakukan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Contoh lainnya yaitu seorang pemuda memberikan tempat duduknya kepada seorang nenek karena ia memiliki keyakinan bahwa anak muda harus hormat kepada orang tua. Atau, seorang berpuasa sekian hari untuk mendapatkan berkah sesuai dengan kepercayaannya.
4.     Rasional Instrumental
Yaitu tindakan sosial yang dilaksanakan dengan pertimbangan tertentu antara usaha, manfaat dan tujuan yang ingin didapat oleh orang tersebut. tindakan sosial ini adalah tindakan paling rasional diantara tindakan sosial lainnya.
Contohnya, seseorang ingin membeli kendaraan bermotor. Ia harus bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Uang tersebut disisihkan untuk keperluan pribadi dan tabungan membeli kendaraan. Jika tabungannya sudah terkumpul atau sudah mencukupi harga sebuah kendaraan bermotor, maka ia akan membeli kendaraan tersebut. 

Senin, 25 Maret 2013

Hakikat manusia


Hakikat manusia itu ada 3:
- Tidak mau disalahkan. Manusia akan mencari pembenaran atas dirinya sendiri
- Tidak pernah bisa disamakan. Isi kepala dari semua manusia pasti berbeda-beda, tidak bisa disamakan
- Manusia itu tidak 100% baik dan tidak 100% buruk. Jadi, manusia itu baik dan buruk

Koentjaranigrat, dalam pelajaran Manusia dan Masyarakat Indonesia

Kamis, 14 Maret 2013

Parenting Style


Ya, minggu lalu pelajaran Pengantar Psikologi gue ngebahas masalah Perkembangan Manusia. Ini pelajaran yang menarik dan sangat penting bagi para pekerja sosial dimanapun mereka berada. Dari materi yang dibahas, ada satu pembahasan yang sangat menarik untuk di publish ke Tumblr. Bagian tersebut adalah Parenting Style. Pembahasan ini bukan pembahasan utama, tapi pembahasan ini yang bikin diskusi keluar dari topik utama (fyi, that’s because of me). Dari pada panjang lebar, mending liat aja dah 
Parenting Style, Termasuk Orang Tua atau Calon Orang Tua bagaimanakah Kamu?

Setiap orang punya gaya mereka masing-masing, termasuk dalam mengasuh anak mereka. Menurut Diana Baumrind (1971, 1991), orang tua berinteraksi dengan anak-anaknya menggunakan satu dari empat dasar cara:
  1. Authoritarian parenting adalah pola pengasuhan yang membatasi dan memberi hukuman dimana orang tuanya mendesak anak untuk mengikuti arahan orang tua dan menilai kerja keras dan usaha. Kebiasaan orangtuanya adalah terbatas dan hukuman. Anak hanya diberi hukuman jika melakukan kesalahan tanpa diberi penjelasan mengapa ia dihukum. Perintah tidak dapat dipertanyakan. Sedikit memberi hubungan lisan. Akibat yang didapat oleh anak yaitu kegelisahan tentang perbandingan sosial, sedikit inisiatif, kemampuan komunikasi yang rendah.
  2. Authoritative parenting adalah pola pengasuhan yang mendorong kemandirian anak-anak (tetapi masih menempatkan batasan dan kontrol atas perilaku mereka); hal tersebut termasuk luasnya lisan beri-dan-ambil dan interaksi yang hangat dan ramah dengan anaknya. Kebiasaan orantua biasanya mendorong kemandirian dibawah batasan-batasan. Pemberian hukuman disesuaikan dengan kesalahan yang dibuat sang anak begitupula pemberian hadian. Kekeluargaan terasa hangat dan ramah. Anak akan terbentuk untuk menjalankan kompetensi sosial, kepercayaan diri tinggi, serta memiliki tanggung jawab sosial.
  3. Neglectful parenting adalah pola pengasuhan dimana orang tua tidak dilibatkan dalam kehidupan anaknya. Kebiasaan orangtuanya adalah sedikit terlibatan dalam kehidupan anaknya. Mmisalnya saja orangtua yang selalu sibuk. Tidak menyadari apa yang dilakukan anaknya. Akibat bagi sang anak adalah kegelisahan tentang perbandingan sosial, misalnya saja mereka merasa kasih sayang orangtua temannya lebih besar dari kasihsayang orangtuanya, sedikit inisiatif, kemampuan komunikasi yang rendah.
  4. Indulgent parenting adalah pola pengasuhan dimana orang tua dilibatkan dalam hidup anaknya tetapi ditempatkan beberapa batasan pada mereka. Kebiasaan orangtua jenis ini dalam kehidupan mereka adalah melibatkan diri dengan anaknya tetapi tanpa menempatkan permintaan orangtua ke anak. Sangat serba membolehkan. Akibat yang bisa diterima anak ini adalah kegelisahan tentang perbandingan sosial, sedikit inisiatif, serta lebih manja.
Dari beberapa jenis diatas, ada yang jenis orang tua manakah kamu? (sori, endingnya ga bagus. Lagi kejar tayang).
Oiya, btw ini pembahasan presentasi dari kelompok temen gue. Dan bagi kelompok yang belum presentasi, setiap orang diwajibkan membuat resumenya. Pada saat membuat resume, gue ngebaca bagian ini dan gue tertarik untuk posting bagian ini di tumblr. (sekali-kali, tumblr isinya bermanfaat boleh kan?). Maklum, ketika randomers bener, pasti lagi ada yang ga beres. 
sumber: 
Santrock, Jhon W. 2005. Psychology 7th Edition. New York: McGraw-Hill
ada sumber lain, tapi ga tau dari mana. lupa nanya bukunya. Tulisan yang ada disini dibuat dengan sedikit perubahan.

Rabu, 13 Maret 2013

Alasan Mengapa Sosiologi Berkembang Pesat di Eropa


Sosiologi diambil dalam bahasa Yunani yaitu socius yang berarti kawan dan logos yang berarti ilmu. Jadi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan atau interaksi antar manusia dalam bermasyarakat. Sebenarnya, Sosiologi sudah dikonsepkan oleh Plato namun yang menamai dengan Sosiologi adalah Auguste Comte di abad 19. Sehingga ia disebut sebagai bapak Sosiologi.
Sosiologi berkembang pesat menjelang abad 19, terutama di Eropa dan Amerika. Banyak latar belakang historis yang menyebabkan hal ini. Di Eropa, dua kejadian besar tersebut berdampak pada perubahan struktur yang ada pada masyarakat. Memunculkan dua pihak yang saling bertentangan. Dua kejadian besar tersebu adalah Revolusi Industri dan bangkitnya kapitalisme serta Revolusi Politik di Perancis yang berakibat pada Revolusi Perancis. Sedang di Amerika Serikat, sosiologi berkembang karena adanya Revolusi Amerika atau kemerdekaan Amerika. Dari tiga peristiwa tersebut memunculkan satu masalah baru yang sangat berpengaruh bagi tatanan kehidupan dalam bermasyarakat yang mengakibatkan munculnya ancaman sosial berupa disintergrasi sosial. Menurut Ritzer, kekuatan sosiologi yang mendorong berkembangnya sosiologi yaitu Revolusi Politik, Revolusi Industri dan munculnya Kapitalisme, munculnya sosialisme, urbanisasi, perubahan keagamaan, feminism, dan pertumbuhan ilmu (2008: 5-8)
Revolusi Industri di Inggris muncul pada abad 19 dan dampaknya mulai menyebar pada abad ke 19. Revolusi ini terjadi karen perubahan sistem dari pertanian dalam jumlah besar menjadi industri. Ilmu pengetahuan yang berkembang membuat teknologi semakin berkembangn dan mempermudah pekerjaan manusia serta membuat barang produksi diproduksi dalam jumlah besar. Setelah penemuan mesin uap, industri semakin besar. Industri di Inggris semakin besar karena bahan baku industri mereka dapatkan dengan murah dari Negara jajahan mereka. Mesin yang digunakan semakin canggih sehingga meningkatkan kuantitas barang tanpa perlu membayar pegawai lebih banyak. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kesetimpangan sosial antara orang yang memiliki barang produksi dengan yang tidak memiliki barang produksi. Konsep kapitalis pun muncul. Sehingga para borjuis memperkaya diri mereka sendiri, sedangkan para proletar mencoba bertahan hidup diantara himpitan ekonomi dan kemiskinan. Pada saat itu, terjadi urbanisasi besar-besaran karena banyak beranggapan jika bekerja di kota gaji mereka lebih besar daripada hanya berladang di desa. Hal ini menyebabkan banyak gelandangan dan pengangguran memenui kota.
Hal ini mengakibatkan Karl Marx, Max Webber dan Georg Simmel memusatkan perhatian mereka pada sosiologi. Mereka menyusun teori yang dapat digunakan untuk mencegah disintegrasi antar masyarakat seperti Marx dengan teori Sosialisnya. Dimana barang produksi dimiliki oleh Negara dan digunakan secara bersamaan. Mereka menelti, menciptakan teori baru yang dapat menyelasaikan masalah saat itu seperti ketimpangan sosial, disintegrasi sosial, dan kapitalisme yang merajalela. Karena ada keinginan dari masyarakat untuk menciptakan tidak adanya kesetimpangan, terciptanya intergritas antara masyarakat serta mencegah individualistis yang berlebihan maka sosiologi berkembang pesat.
Lalu, Revolusi Amerika adalah kejadian dimana Amerika menyatakan diri merdeka dari penjajahan Inggris. Tapi, efek dari revolusi Amerika ini adalah banyaknya migrasi dari Eropa yang masuk ke Amerika akibat krisis ekonomi di Eropa. Tanah yang belum di gunakan mulai digunakan sebagai ladang, ladang semakin luas namun pekerja tidak mencukupi sehingga mereka membeli budak dari Afrika untuk dipekerjakan di ladang. Ada pertentangan antara kaum humanis dengan kaum pemilik ladang. Amerika menjadi perang saudara dan terbagi dalam dua kelompok, yaitu yang membela hak budak dan yang dan pihak yang mementingkan ladangnya. Kemajuan teknologi dapat diterima dengan baik baik disini. Namun ada satu masalah yang muncul dari kemajuan-kemajuan ini, yaitu masalah sosial.
Mereka merasa perlu untuk menangani masalah sosial ini. Muncul organisasi yang menangani masalah sosial tersebut yang berlatar belakang Kristen. Baru diabad 19, para pelaku organisasi sosial ini merasa perlu adanya ilmu yang mendasari tindakan sosialnya. Gerakan sosial ini masih bersifat teologis dan filosofis. Dalam perkembangannya, sosiologi di Amerika lebih diarahkan kepada perbaikan masyarakat. Oleh karena itu perkembangan sosiologi di Amerika mengalami perkembangan yang pesat.
Sedangkan di Perancis karena adanya Revolusi Amerika menjadi dasar terjadinya Revolusi Perancis. Lafayette yang membantu kemerdekaan Amerika saat itu terkesan dengan Undang-undang mengenai hak asasi manusia yang dikumandangkan Amerika. Ditambah dengan keadaan Perancis saat itu dipimpin oleh seorang pemimpin yang suka berfoya-foya dan tidak tegas membuat warga ingin menggulingkan kekuasaan Louis XVI. Hal ini berujung pada penyerbuan ke Istana dan pembebasan tawanan politik di penjara Bastille serta pemenggalan Raja Louis XVI.
Dampak dari Revolusi Perancis ini sangat besar seperti hilangnya sistem feodalisme karena mengelompokkan rakyat berdasarkan status sosialnya, berkembangnya ide supermasi hukum UUD merupakan kekuasaan tertinggi, dan lainnya.
Sosiologi berkembang dengan pesat karena para theorist melihat bahwa banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat Perancis semenjak Revolusi Perancis terjadi. Baik dalam hubungan antara masyarakat dengan masyarakat maupun masyarakat dengan pemerintahan. Sosiologi juga dianggap penting dalam perkembagan Negara. Tokoh sosiologi yang lahir pada masa ini adalah Auguste Comte dan Emil Durkheim.
Sumber:
“Revolusi Perancis” diunduh dari http://mustaqimzone.wordpress.com/2012/06/27/revolusi-perancis/, 28 Februari 2013
Laeyendeker, L. 1983. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Jakarta: PT. Gramedia
Ritzer, George. 2008. Modern Sociological Theory. New York: McGraw-Hill